Informasi

Filosofi Banten Pejati

Pejati berasal bahasa Bali, dari kata “jati” mendapat awalan “pa-“. Jati berarti sungguh-sungguh, benar-benar. Awalan pa- membentuk kata sifat jati menjadi kata benda pajati, yang menegaskan makna melaksanakan sebuah pekerjaan yang sungguh-sungguh. Jadi Banten Pejati adalah sekelompok banten yang dipakai sarana untuk menyatakan rasa kesungguhan hati kehadapan Hyang Widhi dan manifestasiNya, akan melaksanakan suatu upacara […]

Wuku adalah perlambang dari sifat-sifat manusia yang dilahirkan pada hari-hari tertentu seperti layaknya horoskop atau perbintangan yang kita kenal. Adapun maksud dan tujuan diciptakan wuku oleh para leluhur Jawa, adalah untuk mengetahui karakter manusia pada sisi kebaikkan dan keburukkannya, saat-saat sialnya, dan doa penangkal dan keselamatannya. Adapun sejarah asal-usulnya wuku yang berjumlah 30 macam sebagai berikut […]

Menurut kamus bahasa Bali, canang merupakan sebuah kata bendadengan tingkatan bahasa halus yang memiliki arti “sirih”. Buku “Sembahyang menurut Hindu” menyebutkan bahwa pada zaman dulu sirih bernilai sangat bernilai tinggi dan menjadi lambang penghormatan. Sirih disuguhkan kepada tamu yang sangat dihormati. Menurut Ida Pedanda Gede Made Gunung, seorang pedanda Bali, kata “canang” terdiri atas dua […]

Umat Hindu memiliki beragam upakara yang digunakan untuk mengiringi upacaranya. Keanekaragaman upakara tersebut merupakan salah satu ciri khas budaya Hindu di Bali. Berbagai macam persembahan dihaturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai wujud rasa bhakti dan rasa syukur umat kehadan-Nya. Umat Hindu memiliki upakara untuk Upacara Bhuta Yadnya. Yaitu upakara yang dihaturkan kehadapan Para […]

Kawitan berasal dari bahasa sansekerta yaitu Wit yang artinya asal mula. Asal mula manusia adalah Tuhan, maka sesungguhnya setiap orang punya Kawitan. Jadi Kawitan adalah pengingat asal atau ada pula yang mendefinisikan Kawitan merupakan leluhur yang pertama kali datang di Bali atau lahir di Bali dan menetap di Bali sampai punya keturunan. Pemujaan Kawitan didasari […]

Pura Besakih atau istilah bahasa Inggrisnya adalah Mother Temple yang berlokasi di Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia ini memiliki satu pura yang bernama Pura Gelap.   Pura Gelap merupakan salah satu Pura Catur Lawa yang merupakan Pura Pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Bhatara Iswara pelindung arah timur alam semesta atau Bhuwana Agung. Istilah ”gelap” dalam […]

Penunggu Karang bagi umat Hindu Bali merupakan salah satu bangunan suci yang wajib dimiliki. Penunggu Karang merupakan stana Ratu Made Alangkajeng, maparaban Bhatara Dukuh Sakti. Beliau berada di bawah perintah Dewa Mahadewa dan sedapat mungkin menempati posisi kaja kauh (barat laut). Banyak umat Hindu Bali, akibat pekarangan yang sempit, kesulitan tata ruang, ditambah petunjuk yang […]

Bagi masyarakat Bali yang beragama Hindu, bunga merupakan sarana ritual yang sangat penting. Malah, dapat dikatakan, bunga merupakan sarana persembahan pokok bagi umat Hindu selain api dan air. Namun, tidak segala jenis bunga bisa dipersembahkan atau digunakan sebagai sarana dalam persembahyangan. Tradisi pelaksanaan agama Hindu di Bali menyebut sejumlah jenis bunga yang pantang untuk dipersembahkan. […]

Rarapan yang dihaturkan biasanya berupa rokok kretek, ketela rebus, ubi, jagung laklak tape, jaja injin dan sebagainya. Dan karena perkembangan saat ini, rarapan yang dihaturkan tersebut bisa bermacam-macam seperti manisan (permen), snack-snack dan sebagainya. Pokoknya apa saja yang bisa dikonsumsi oleh manusia, itulah yang dijadikan rarapan. Rarapan ini dihaturkan di tempat-tempat yang diyakini atau dirasakan […]

Bungkak Nyuh Gading merupakan istilah yang sudah sangat dikenal bagi masyarakat Hindu Bali. Bungkak Nyuh Gading ini adalah istilah yang digunakan untuk menamai kelapa muda (bungkak) yang berwarna orange kekuningan (gading). Bungkak Nyuh Gading ini merupakan simbol dari Hyang Surya. Berbicara mengenai kasiat dari segi magis, mistis, memang sudah lumrah dalam agama Hindu Bali. Kenapa […]