persembahan_terindah
Lainnya

PERSEMBAHAN TERINDAH

Di semua agama ada manusia yang rindu untuk menyembah. Ia serangkaian kerinduan jiwa untuk segera menemukan rumah. Sayangnya, tidak banyak manusia di zaman ini yang jiwanya menemukan rumah indah. Kebanyakan manusia bertumbuh jiwanya dari rasa resah menuju rasa gelisah. Jangankan kemiskinan, bahkan kekayaan pun menimbulkan kegelisahan.

Untuk mengobati keresahan dan kegelisahan seperti inilah, Arjuna dengan berat hati bertanya kepada Shri Krisna sebagai perwujudan Tuhan. Tatkala dialognya memasuki wilayah-wilayah persembahan, dengan tersenyum indah Shri Krisna menjawab: “asal seseorang melakukannya secara tulus dan halus, maka persembahan air dan bunga saja sudah lebih dari cukup”.

Jawaban ini menimbulkan pertanyaan berikutnya, kenapa harus air dan bunga? Kenapa bukan daun, rumput, buah, daging, dll? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Selama ribuan tahun manusia sudah banyak yang berspekulasi tentang makna di balik air dan bunga. Banyak jawaban yang sudah muncul ke permukaan.

Dan di kedalaman meditasi pernah terdengar, air adalah simbol dari pikiran yang mengalir. Bunga adalah simbol dari hati yang indah. Seperti kita semua sudah tahu, air yang mengalir mudah sekali menimbulkan rasa damai di dalam. Ia seperti sedang berpesan, belajar untuk selalu mengalir dalam kehidupan.

Sederhananya, berusaha agar kehidupan lebih baik tentu saja boleh, berdoa juga boleh, tapi apa pun berkah yang diberikan kehidupan, belajar untuk mendekapnya dengan rasa syukur dan rasa terimakasih yang mendalam. Siapa saja yang mendekap setiap berkah kekinian dengan rasa syukur yang mendalam, hidupnya berubah menjadi sungai kedamaian.

Sebagaimana sungai sesungguhnya yang mengalir menuju samudra, pikiran yang mengalir juga serupa. Setiap pikiran yang sudah mengalir sempurna dalam waktu yang lama akan berujung pada sebuah samudra penuh berkah yang bernama hati yang indah. Perpaduan unik antara pikiran yang mengalir dengan hati yang indah inilah yang membuat seorang penyembah bisa berjumpa puncak Satchittananda (keindahan yang tidak terjelaskan).

Pekerjaan rumahnya kemudian, bagaimana membuat pikiran agar senatiasa mengalir? Di Tantra ada pengandaian yang indah. Pikiran menderita mirip dengan salju yang kaku dan beku. Ia tidak saja gagal mengalir, tapi juga rawan bertabrakan dengan pihak lain. Dan ajaran-ajaran suci serupa cahaya matahari.

Sebagian salju memang bisa dibuat mencair oleh cahaya matahari. Namun, ada salju yang terlalu kaku dan beku untuk bisa dibikin cair oleh sinar matahari. Penderitaan manusia di zaman ini serupa. Banyak sekali ajaran suci yang sudah dibagikan di muka bumi selama ribuan tahun. Namun penderitaan manusia tidak menunjukkan tanda-tanda menurun.

Di titik seperti inilah para pencari memerlukan kaca pembesar agar salju penderitaan cepat mencair. Dan diantara berbagai pilihan yang tersedia, bakti kepada Guru sejati adalah cara yang paling sering disebut di jalan Tantra. Jetsun Milarepa di Tibet adalah yogi tingkat tinggi yang mengikuti jalan ini. Penderitaannya hebat sekali. Dari kehilangan harta orang tua, dibikin nyaris mati oleh kemiskinan, sampai melakukan kesalahan berbahaya berupa membunuh sejumlah manusia. Tapi baktinya yang sempurna kepada Gurunya Marpa membuat salju penderitaan Milarepa mencair.

Lebih dari sekadar keluar dari salju beku penderitaan, Jetsun Milarepa juga mengalami pencapaian spiritual yang sangat-sangat jarang bisa dicapai manusia biasa. Kehidupan Milarepa menjadi cahaya yang sangat bersinar menerangi banyak sekali pencari cahaya. Kisahnya terjadi di abad 11, tapi sampai saat ini cahaya Milarepa masih memancar. Sejujurnya, inilah bentuk persembahan yang terindah. Seseorang tidak saja menyembah untuk menyelamatkan jiwa, tapi juga menyembah untuk bisa berbagi cahaya kepada dunia.

Penulis: Gede Prama

sumber

Standard
penjormakna
Informasi

Makna Penjor bagi umat Hindu

Makna penjor bagi umat Hindu dari jaman dulu hingga kini bahkan hingga nanti dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa menggunakan symbol-simbol. Dalam Agama Hindu simbol dikenal dengan kata niasa ialah yang merupakan pengganti yang sebenarnya. Bukan agama saja yang memanfaatkan simbol, bangsa juga memanfaatkan simbol-simbol.

Bentuk dan jenis simbol yang berbeda tetapi memiliki fungsi yang sama. Dalam upakara terdiri dari tidak sedikit macam material yang dimanfaatkan yang merupakan simbol yang penuh memiliki makna yang tinggi, di mana makna tersebut berkaitan isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Untuk mencapai keseimbangan dari segala factor kehidupan seperti Tri Hita Karana. Penduduk di Bali sudah tak asing lagi dengan penjor. Masyarakat mengenal dua (2) tipe penjor, antara lain Penjor Sakral dan Penjor hiasan.

Merupakan bagian dari upacara keagamaan, contohnya upacara Galungan, piodalan di pura-pura. Sedangkan pepenjoran atau penjor hiasan rata rata dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dll. Pepenjoran atau penjor hiasan tak berisi sanggah penjor, tak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll. Penjor sakral yang dipergunakan pada disaat hari raya Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll. Definisi Penjor menurut I.B. Putu Sudarsana dimana Kata Penjor berasal dari kata “Penjor”, yang akan diberikan arti yang merupakan, “Pengajum”, atau “Pengastawa”, kemudian kehilangan huruf sengau, “Ny” menjadilah kata benda maka jadi kata, “Penyor” yang mengandung tujuan dan pengertian, ”Sebagai Media Untuk Melaksanakan Pengastawa”.

Umat Hindu di Bali pada saat hari raya Galungan pada umumnya membuat penjor. Penjor Galungan ditancapkan pada Hari Selasa/Anggara wara/wuku Dungulanyang dikenal yang merupakan hari Penampahan Galungan yang bermakna tegaknya dharma. Penjor dipasang atau ditancapkan pada lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Jika rumah menghadap ke utara sehingga penjor ditancapkan kepada sebelah timur pintu masuk pekarangan. Sanggah danlengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Bahan penjor yakni sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yangmuda juga daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor Pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (contohnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, pun sanggah Ardha Candra komplit dgn sesajennya. Terhadap ujung penjor digantungkan sampiyan penjor komplit dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran maka wujudnya menyerupai wujud bulan sabit.

Maksud pemasangan penjor yaitu sebagai swadharma umat Hindu untuk wujudkan rasa bakti dan berterima kasih kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Penjor sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bambu tinggi melengkung yaitu gambaran dari gunung yangteratas yang merupakan lokasi yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain yakni adalah wakil-wakil dari semua tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa.

Penjor Galungan yakni penjor yang bersifat relegius, yaitu memiliki fungsi tertentu dalam upacara keagamaan, dan wajib dibuat lengkap dengan perlengkapan-perlengkapannya. Dilihat dari segi wujud penjor yaitu lambang Pertiwi dengan segala hasilnya, yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah digambarkan yang merupakan dua ekor naga merupakan Naga Basuki dan Ananta bhoga. Selain itu pula, penjor adalah simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Hiasan-hiasan yakni ialah bejenis-jenis daun seperti daun cemara, andong, paku pipid, pakis aji dll. Untuk buah-buahan mempergunakan padi, jagung, kelapa, ketela, pisang termasuk juga pala bungkah, pala wija dan pala gantung, pula di lengkapi dengan jajan, tebu dan uang.

Oleh karena itu, menciptakan satu buah penjor sehubungan dengan pembuatan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tak asal menciptakansaja, tetapi selayaknya penjor tersebut tepat dengan ketentuan Sastra Agama, maka tak berkesan hiasan saja. Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut ialahmerupakan symbol-simbol suci, sebagai landasan peng-aplikasian ajaran Weda, maka mencerminkan adanya nilai-nilai tradisi Agama. Unsur-unsur terhadap penjor yaitu simbol-simbol sebagai berikut :

Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara.
Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma.
Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra.
Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa.
Daun-daunan (plawa) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara.
Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu.
Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu.
Sanggah Ardha Candra sebaga: simbol kekuatan Hyang Siwa.
Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa.

Didalam Lontar “Tutur Dewi Tapini, Lamp. 26”, menyebutkan sebagai berikut : “Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha, Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala, Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan, Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading, Hyang Sangkara Meraga Phalem, Hyang Sri Dewi Meraga Pari, Hyang Sambu Meraga Isepan, Hyang Mahesora Meraga Biting (IB. PT. Sudarsana, 61; 03) WHD No. 478 November 2006.

Demikian artikel mengenai arti penjor bagi umat hindu mudah-mudahan berguna. – sumber

Standard
rentetan galungan
Informasi

16 Rentetan Hari Raya Galungan Yang Wajib Kita Tau!!!

1. TUMPEK WARIGA

Jatuh pada hari Saniscara, Kliwon, Wuku Wariga, atau 25 hari sebelum Galungan. Upacara ngerasakin dan ngatagin dilaksanakan untuk memuja Bhatara Sangkara, manifestasi Hyang Widhi, memohon kesuburan tanaman yang berguna bagi kehidupan manusia.

2. ANGGARA KASIH JULUNGWANGI

Hari Anggara, Kliwon, Wuku Julungwangi atau 15 hari sebelum Galungan. Upacara memberi lelabaan kepada watek Butha dengan mecaru alit di Sanggah pamerajan dan Pura, serta mengadakan pembersihan area menjelang tibanya hari Galungan.

3. BUDA PON SUNGSANG

Hari Buda, Pon, Wuku Sungsang atau 7 hari sebelum Galungan. Disebut pula sebagai hari Sugian Pengenten yaitu mulainya Nguncal Balung. Nguncal artinya melepas atau membuang, balung artinya tulang; secara filosofis berarti melepas atau membuang segala kekuatan yang bersifat negatif (adharma).

Oleh karena itu disebut juga sebagai Sugian Pengenten, artinya ngentenin (mengingatkan) agar manusia selalu waspada pada godaan-godaan adharma.

Pada masa nguncal balung yang berlangsung selama 42 hari (sampai Buda Kliwon Paang) adalah dewasa tidak baik untuk: membangun rumah, tempat suci, membeli ternak peliharaan, dan pawiwahan.

4. SUGIAN JAWA

Hari Wraspati, Wage, Wuku Sungsang, atau 6 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian dan kelestarian Bhuwana Agung (alam semesta).

5. SUGIAN BALI

Hari Sukra, Kliwon, Wuku Sungsang, atau 5 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian, dan keselamatan Bhuwana Alit (diri sendiri).

6. PENYEKEBAN

Hari Redite, Paing, Wuku Dungulan, atau 3 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Galungan yang menggoda manusia untuk berbuat adharma. Galung dalam Bahasa Kawi artinya perang; Bhuta Galungan adalah sifat manusia yang ingin berperang atau berkelahi.

Manusia agar menguatkan diri dengan memuja Bhatara Siwa agar dijauhkan dari sifat yang tidak baik itu. Secara simbolis Ibu-ibu memeram buah-buahan dan membuat tape artinya nyekeb (mengungkung/ menguatkan diri).

7. PENYAJAAN

Hari Soma, Pon, Wuku Dungulan, atau 2 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Dungulan yang menggoda manusia lebih kuat lagi untuk berbuat adharma. Dungul dalam Bahasa Kawi artinya takluk; Bhuta Dungulan adalah sifat manusia yang ingin menaklukkan sesama atau sifat ingin menang.

Manusia agar lebih menguatkan diri memuja Bhatara Siwa agar terhindar dari sifat buruk itu. Secara simbolis membuat jaja artinya nyajaang (bersungguh-sungguh membuang sifat dungul).

8. PENAMPAHAN

Hari Anggara, Wage, Wuku Dungulan, atau 1 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Amangkurat yang menggoda manusia lebih-lebih kuat lagi untuk berbuat adharma. Amangkurat dalam Bahasa Kawi artinya berkuasa. Bhuta Amangkurat adalah sifat manusia yang ingin berkuasa.

Manusia agar menuntaskan melawan godaan ini dengan memuja Bhatara Siwa serta mengalahkan kekuatan Sang Bhuta Tiga (Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan, dan Bhuta Amangkurat).

Secara simbolis memotong babi “nampah celeng” artinya “nampa” atau bersiap menerima kedatangan Sanghyang Dharma. Babi dikenal sebagai simbol tamas (malas) sehingga membunuh babi juga dapat diartikan sebagai menghilangkan sifat-sifat malas manusia.

Sore hari ditancapkanlah penjor lengkap dengan sarana banten pejati yang mengandung simbol “nyujatiang kayun” dan memuja Hyang Maha Meru (bentuk bambu yang melengkung) atas anugerah-Nya berupa kekuatan dharma yang dituangkan dalam Catur Weda di mana masing-masing Weda disimbolkan dalam hiasan penjor sebagai berikut:

lamak simbol Reg Weda,
bakang-bakang simbol Atarwa Weda,
tamiang simbol Sama Weda, dan
sampian simbol Yayur Weda.
Di samping itu penjor juga simbol ucapan terima kasih ke hadapan Hyang Widhi karena sudah dianugerahi kecukupan sandang pangan yang disimbolkan dengan menggantungkan beraneka buah-buahan, umbi-umbian, jajan, dan kain putih kuning.

Pada sandyakala segenap keluarga mabeakala, yaitu upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Galungan.

9. GALUNGAN

Hari Buda, Kliwon, Wuku Dungulan, merupakan perayaan kemenangan manusia melawan bentuk-bentuk adharma terutama yang ada pada dirinya sendiri. Bhatara-Bhatari turun dari Kahyangan memberkati umat manusia. Persembahyangan di Pura, Sanggah Pamerajan bertujuan mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi atas anugrah-Nya itu.

10. MANIS GALUNGAN

Hari Wraspati, Umanis, Wuku Dungulan, 1 hari setelah Galungan, melaksanakan Dharma Santi berupa kunjungan ke keluarga dan kerabat untuk mengucapkan syukur atas kemenangan dharma dan mohon maaf atas kesalahan-kesalahan di masa lalu.

Malam harinya mulai melakukan persembahyangan memuja Dewata Nawa Sangga, mohon agar kemenangan dharma dapat dipertahankan pada diri kita seterusnya.

Pemujaan di malam hari selama sembilan malam sejak hari Manis Galungan sampai hari Penampahan Kuningan disebut sebagai persembahyangan Nawa Ratri (nawa = sembilan, ratri = malam) dimulai berturut-turut memuja Bhatara-Bhatara: Iswara, Mahesora, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambu, dan Tri Purusa (Siwa-Sada Siwa-Parama Siwa).

11. PEMARIDAN GURU

Hari Saniscara, Pon, Wuku Dungulan, 3 hari setelah Galungan merupakan hari terakhir Wuku Dungulan meneruskan persembahyangan memuja Dewata Nawa Sangga khususnya Bhatara Brahma.

12. ULIHAN

Hari Redite, Wage, Wuku Kuningan, 4 hari setelah Galungan, Bhatara-Bhatari kembali ke Kahyangan, persembahyangan di Pura atau Sanggah Pamerajan bertujuan mengucapkan terima kasih atas wara nugraha-Nya.

13. PEMACEKAN AGUNG

Hari Soma, Kliwon, Wuku Kuningan, 5 hari setelah Galungan. Melakukan persembahan sajen (caru) kepada para Bhuta agar tidak mengganggu manusia sehingga Trihitakarana dapat terwujud.

14. PENAMPAHAN KUNINGAN

Hari Sukra, Wage, Wuku Kuningan, 9 hari setelah Galungan. Manusia bersiap nampa (menyongsong) hari raya Kuningan. Malam harinya persembahyangan terakhir dalam urutan Dewata Nawa Sanga, yaitu pemujaan kepada Sanghyang Tri Purusha (Sisa, Sada Siwa, Parama Siwa).

15. KUNINGAN

Hari Saniscara, Kliwon, Wuku Kuningan, 10 hari setelah Galungan. Para Bhatara-Bhatari turun dari Kahyangan sampai tengah hari.

Manusia mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi atas wara nugrahanya berupa kekuatan dharma serta mohon agar kita senantiasa dihindarkan dari perbuatan-perbuatan adharma.

Secara simbolis membuat sesajen dengan nasi kuning sebagai pemberitahuan (nguningang) kepada para preti sentana agar mereka mengikuti jejak leluhurnya merayakan rangkaian hari raya Galungan – Kuningan.

Selain itu menggantungkan “tamiang” di Palinggih-palinggih sebagai tameng atau perisai terhadap serangan kekuatan adharma.

16. PEGAT UWAKAN

Hari Buda, Kliwon, Wuku Paang, satu bulan atau 35 hari setelah Galungan, merupakan hari terakhir dari rangkaian Galungan. Pegat artinya berpisah, dan uwak artinya kelalaian. Jadi pegat uwakan artinya jangan lalai melaksanakan dharma dalam kehidupan seterusnya setelah Galungan. Berata-berata nguncal balung berakhir, dan selanjutnya roda kehidupan terlaksana sebagaimana biasa.

(sumber)

Standard
hindu
Informasi

Hindu Agama Monotheism: Percaya Hanya Ada Satu Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa)

Monotheism merupakan percaya hanya ada satu Tuhan, Hindu Agama Monotheism berarti Agama Hindu percaya hanya ada satu Tuhan yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Didalam Chandogya Upanishad dinyatakan:

“Om Tat Sat Ekam Ewa Adwityam Brahman”

Ida Sang Hyang Widhi hanya satu tidak ada duanya dan maha sempurna.

Didalam mantram Tri Sandhya disebutkan:

“Eko Narayanad Na Dwityo Sti Kscit”

Ida Sang Hyang Widhi dipanggil Narayana, sama sekali tidak ada duanya.

Didalam Kitab Suci Rgveda disebutkan:

“Om Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti”

Ida Sang Hyang Widhi itu hanya satu, tetapi para Vipra (Rsi) menyebut dengan berbagai nama.

Sloka-sloka diatas menjelaskan bahwa Agama Hindu percaya dengan adanya satu Tuhan yaitu Ida Sang Hyang Widhi yang disebut dengan Monotheism, sekaligus mempertegas bahwa Agama Hindu bukanlah penganut Polytheism.

Didalam Veda, Ida Sang Hyang Widhi memiliki banyak gelar atau nama sebutan sesuai dengan fungsiNya (ManifestasiNya). Rgveda I.164.46 menyebutkan:

“Indram Mitram Varuna Agnim Ahur Atho Divyah Sasuparno Garutman, Ekam Sad Vipra Bahudha Vadantyagnim Yaman Matarisvanam Ahuh”.

Disebut sebagai Indra, Mitra, Waruna, Agni, dan Dia yang bercahaya yaitu Garutman yang bersayap indah, namun semua itu satu yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para Vipra (Rsi) menyebut dengan banyak nama seperti: Agni, Yama, dan Matarisvan.

Ida Sang Hyang Widhi adalah asal dan tujuan semua yang ada (Mijil Sakeng Sira, Musna Ri Sira Muwah). Didalam Taittiriya Upanisad III.1 disebutkan:

“Yato Va Imani Bhutani Jayate,
Yena Jatani Jivantti,
Yat Prayanty Abhisam Visanti,
Tad Vijijnasasva, Tad Brahmeti”

Darimana semua ini lahir,
Dengan apa yang lahir ini hidup,
Kemana mereka masuk setelah kembali,
Ketahuilah, bahwa itu Ida Sang Hyang Widhi.

Apapun bentuk manifestasi ataupun tempat pemujaan, ingatlah satu hal yang pasti bahwa sesungguhnya tujuannya adalah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena sesunggunya Agama Hindu hanya memiliki satu Tuhan yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bermanifestasi sesuai tempat dan fungsiNya.

Dalam senaya.web.id pula dijelaskan, bahwa di Bali Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) disebut dengan banyak nama sesuai dengan Swabawanya masing-masing, seperti:

1. Sang Hyang sangkan Paran

Tuhan menjadi asal mula dan tujuan akhir atau kembalinya seluruh alam.

2. Sang Hyang Tunggal

Tuhan adalah Maha Esa.Maha Tunggal tidak ada duanya.

3. Sang Hyang Wenang atau sang Hyang Tuduh

Tuhan memegang wewenang atau kekuatan yang mutlak dalam bentuk susunan dan peraturan alam yang juga memegang nasib makhluk sesuai dengan suba dan asuba karmanya.

4. Sang Hyang Siwa

Tuhan Maha Pelindung dan Termulia.

5. Sang Hyang Guru

Tuhan sebagai Guru Besar atau Bapak Besar seluruh alam semesta.

6. Sang Hyang Jagatnatha/Jagat Karana/Praja Patya

Tuhan menjadi Raja seluruh alam dengan isinya.

7. Sang Hyang Darma

Tuhan bersipat dan berkeadaan Benar Sejati.

8. Sang Hyang Parama Siwa/Parama Wisesa

Tuhan Maha Besar,Maha Kuasa dan Maha Mulia.

9. Sang Hyang Maha Dewa

Tuhan adalah Dewa Yang Tertinggi.

10. Sang Hyang Adi Bhuda

Tuhan adalah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

11. Sang Hyang Tri Murti/Tri Wisesa

Tuhan sebagai “Pencipta”,”Pemelihara” dan “Pelebur”.

12. Sang Hyang Paramatma

Tuhan sebagai sumber Atma (jiwa besar) yang menjiwai alam semesta.

(sumber)

Standard
Kandapa
Informasi

Makna dan Fungsi Plangkiran di Kamar

HINDUALUKTA– Plangkiran merupakan salah satu sara untuk melakukan persembayangan bagi umat Hindu. Sehingga setiap kamar bagi Umat Hindu dilengkapi dengan Pelangkiran. Namun apakah kalian tau makna dan fungsi plangkiran tersebut?

Nah untuk mempersingkat langsung ajah yah. Berdasarkan Lontar Aji Maya Sandhi,  pada dahulu kalah ketika manusia sedang tidur maka Kanda Pat itu keluar dari tubuh manusia dan bergentayangan, ada yang duduk di dada, di perut, di tangan dsb. Sehingga mengganggu tidur manusia; oleh karena itu perlu dibuatkan pelangkiran untuk stananya agar mereka dapat melaksanakan tugas sebagai penunggu urip.

Jika itu dilaksanakan maka manusia akan tidur dengan tenang dan nyenyak karena sudah ada yang menjaga dari segala bentuk gangguan roh jahat.
Pelangkiran dari kayu di atas tempat tidur, sebagai stana Kandapat, sedangkan Kandapat diwujudkan dalam bentuk daksina lingga, yakni sebuah daksina yang dibungkus dengan kain putih/kuning.

Kemudian dihaturi banten tegteg-daksina-peras-ajuman (pejati) dan setiap bulan purnama dibaharui/diganti, daksina lingganya tidak perlu diganti (biarkan selamanya di situ).

 Setiap hari dihaturi banten saiban/jotan
Setiap mau meninggalkan rumah pamit ke Kandapat dan pulangnya membawa oleh-oleh makanan/kuwe, dll. sekedarnya saja, tanda ingat.

Kalau gajian/mendapat hasil uang, dihaturkan dahulu di situ, biarkan semalam, keesokan harinya baru ‘dilungsur’ .

Setiap mau tidur sembahyang, seraya memohon ke Kandapat menjaga kita selama tidur.

“Om Asato Ma Sat Gamaya, Tamaso Ma Jyotir Gamaya Mrityor Mamritan Gamaya”

Artinya :
“Oh Sanghyang Widhi Wasa, Tuntunlah Kami Dari Jalan Sesat Ke Jalan Yang Benar, Dari Jalan Gelap Ke Jalan Yang Terang Hindarkan Kami Dari Kematian Menuju Kehidupan Sejati.”
Standard
penjor-735x400
Informasi

MAKNA KATA ASTUNGKARA, SVAHA DAN TATHASTU

Beberapa tahun belakangan ini kita sebagai orang Bali yang beragama Hindu mungkin sudah sering mendengar kata Astungkara, Svaha dan Tathastu. Namun kadang mungkin ada orang yang tidak tahu apa sebenarnya makna saat kita mengucapkan ke tiga kata tersebut dan kapan kita boleh mengucapkan kata tersebut.

Astungkara berasal dari kata Astu dan Kara, yang mendapat sisipan “ng”. Astu berarti semoga terjadi dan Kara berarti penyebab, dan kata penyebab dalam hal ini merujuk kepada Tuhan. Jadi Astungkara berarti semoga terjadi atas kehendak-Nya.

Svaha Atau Swaha adalah nama dari permaisuri dewa Agni. Swaha bagaikan sebuah lagu rohani dan juga berarti semoga diberkati. Swaha adalah ucapan yang umumnya diucapkan di akhir sebuah mantra. Seperti kata “Om” yang diucapkan di awal mantra, “Swaha” diucapkan di akhir mantra.

Tathastu berasal dari kata Tat dan Astu, Tat berarti itu, kata “itu” merujuk pada doa atau permohonan yang diucapkan, sedangkan Astu berarti semoga terjadi. Jadi Tathastu berarti terjadilah seperti itu.

Saat kapan sebaiknya menggunakan kata Astungkara, Svaha dan Tathastu

Astungkara diucapkan saat kita sedang menyampaikan harapan, keinginan dan doa pribadi kita kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.                                                                                                                     contohnya “Astungkara nanti bisa menjawab soal ujian dengan baik dan benar” Atau contoh lain “Astungkara perjalanan saya nanti tanpa menemui hambatan dan selamat sampai di tujuan”.

Svaha diucapkan di akhir pengucapan sebuah mantra suci, setiap menghaturkan persembahan atau setiap menuangkan persembahan ke dalam api suci. kita sering mengucapkan kata svaha ini saat kita melakukan kramaning sembah. contoh “Om Namah Sivaya, Svaha ”.

Tathastu diucapkan untuk meng-amini atau untuk ikut mendoakan apa yang menjadi harapan dan doa orang lain supaya bisa terwujud sesuai dengan harapan orang tersebut. sebagai kata untuk mengamini biasanya kata tathastu ini diucapakan oleh orang lain sebagai bentuk dukungan kepada orang lain yang sedang berharap sesuatu kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.                             contoh “Astungkara tahun depan saya bisa membeli rumah, orang yang mendengar atau orang yang diajak bicara bisa menjawab atau mengucapkan kata Tathastu.

Jadi bisa ditarik kesimpulan kata Astungkara, Svaha dan Tathastu adalah sebuah kata suci yang diucapakan untuk sebuah doa yang tulus dan ikhlas, doa yang baik untuk kebaikan dan tidak boleh mengucapkan kata tersebut untuk doa yang bersifat mencelakakan orang lain atau mengharapkan orang lain sengsara. Semoga artikel ini bermanfaat untuk semeton. – sumber

Standard
ilustrasi-cekik_20160722_090715
Lainnya

Terkuak, Ini Motif Pembunuhan Luh Tety oleh Teman Kencannya di Ubung

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Ni Luh Tety Ramuna (23), menjadi korban pembunuhan di penginapan Wisma Warta Puspita, Denpasar, Bali, Rabu (20/7/2016).

Wanita ini dibunuh oleh teman kencannya, Komang Arim Sujana (23).

Jenazah wanita berparas cantik itu ditemukan di kolong ranjang kamar nomor 5 Wisma Warta Puspita oleh karyawan wisma.

Pelaku langsung diamankan oleh polisi di wisma tersebut.

Keterangan berbelit-belit Komang Arim Sujana sempat agak membingungkan petugas kepolisian pada awal pemeriksaan.

Namun, Kamis (21/7/2016) kemarin penyidik Polsek Denpasar Barat (Denbar) akhirnya berhasil mengorek keterangan dari saksi-saksi, sehingga informasi yang dikumpulkan menjadi lebih utuh mengenai motif sesungguhnya pembunuhan itu.

Pelaku yang menjalani pemeriksaan sejak Rabu (20/7/2016) siang hingga Kamis (21/7/2016) pukul 02.00 Wita dinihari mengakui, pembunuhan itu dilakukan lantaran dirinya bokek alias tak memiliki uang guna membayar `layanan` seks yang diberikan Tety kepadanya.

Korban sendiri sebetulnya sudah bersuami bahkan memiliki satu anak.

“Di awal pemeriksaan, keterangan Komang Arim berubah-ubah tentang motif pembunuhan yang dilakukannya,” kata Pjs Kepala Unit (Kanit) Reskrim Polsek Denbar, Iptu Putu Ika Prabawa, Kamis (21/7/2016) di Mapolsek Denbar.

Sebelumnya, pelaku yang berasal dari Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli, itu mengatakan bahwa Tety dihabisinya karena meminta tarif ‘layanan seks’ melebihi kesepakatan.

Putu Ika menjelaskan, sejak 12 Juli menginap di Wisma Warta Puspita, Komang Arim sebetulnya sudah tak memiliki uang.

Itu sebabnya, pelaku menunggak pembayaran wisma hingga berhari-hari.

“Korban terus mendesak diri pelaku untuk membayar biaya `servis`. Karena si pelaku memang sejak awal tidak memiliki uang, dia pun panik dan membunuh korban dengan cara dicekik di atas ranjang, lalu dibekap menggunakan bantal, dan mayatnya disembunyikan di kolong ranjang,” jelas Iptu Putu Ika.

Menurut keterangan para saksi yang dikorek penyidik, pelaku awalnya berniat mencari wanita penghibur yang bisa diajak berhubungan badan.

Pada Selasa (19/7/2016) siang, pelaku memesan taksi untuk diantar berkeliling kota untuk melihat-lihat cewek.

Pelaku meminta bantuan karyawan wisma, Taufik Ismail, untuk memesankan taksi. Sebab, pelaku tidak memiliki ponsel.

“Dia dengan sopir taksi dan Ismail keliling cari cewek di seputaran Denpasar. Dari pengakuannya, ia bertemu dengan korban di Hotel Ijo di Jalan Cargo. Dari sana, keduanya berangkat menuju Hotel Diana yang letaknya tak jauh dari Wisma Warta Puspita.

“Menuju Hotel Diana, pelaku dan korban naik mobil Agya milik korban, sementara Ismail dan sopir taksi mengikuti dari belakang,” jelas Iptu Putu Ika.

Di Hotel Diana itu, korban dengan pelaku berhubungan badan. Untuk membayar biaya kamar Hotel Diana sebesar Rp 100 ribu, pelaku meminta Gede Getas, si sopir taksi, untuk menalanginya.

Setelah itu, korban dan pelaku sama-sama menuju Wisma Warta Puspita dengan diikuti oleh Ismail dan sopir taksi Gede Getas Hariadi. Saat itu sudah Selasa (19/7/20165) malam.

Sesampainya di Wisma Warta Puspita, korban dan pelaku langsung naik ke kamar di lantai dua.

Beberapa jam kemudian, tersangka turun dan membayar hanya sebagian biaya penginapan di wisma sebesar Rp 300 ribu.

Gede Getas juga mendesak pelaku untuk segera membayar ongkos taksi dan mengembalikan uang miliknya yang dipinjam pelaku.

Oleh pelaku, Gede Getas disuruh sabar.

Malam itu juga, pelaku mengajak dia ke Terminal Ubung dengan alasan untuk mengambil kalung emas yang dibawa saudaranya.

Sesampai di Terminal Ubung, pelaku meninggalkan sejenak Gede Getas dan kembali beberapa saat kemudian sambil membawa kalung emas.

Emas tersebut, menurut Iptu Putu Ika, digunakan oleh pelaku sebagai jaminan pembayaran utangnya kepada Gede Getas.

Kesepakatannya, apabila hingga keesokan hari pelaku belum bisa melunasi utangnya, Gede Getas boleh menjual kalung emas tersebut.

“Setelah diselidiki, kalung emas itu ternyata milik korban. Korban sudah dibunuh sekitar jam 10 malam. Usai dihabisi, pelaku mengambil uang korban sebesar Rp 300 ribu untuk membayar sebagian biaya hotel. Sementara, kalung korban diberikannya kepada sopir taksi,” urai Putu Ika.

Lebih lanjut, kata Putu Ika, selama rentang waktu malam hari saat terjadinya pembunuhan hingga pagi harinya, pelaku mengaku sulit tidur.

Ia berada di kamar semalaman bersama mayat korban.

“Pelaku setelah membunuh bilang pikirannya kacau. Dengan mayat di sebelahnya, dia menonton TV sepanjang malam. Selain itu, dia mengaku mencoba bunuh diri dengan cara minum Bodrex dicampur Sprite. Tetapi tidak berhasil,” kata Putu Ika.

Pada pagi harinya, pelaku memutuskan mencoba kabur dari wisma.

Akan tetapi, gerak-geriknya yang mencurigakan diketahui oleh Taufik Ismail, pegawai wisma.

Karena menyangka pelaku hendak kabur tanpa membayar sisa sewa kamar wisma sebesar Rp 400 ribu, pelaku dicegah oleh Ismail.

“Karena merasa ada yang tidak beres, Ismail lalu berniat memeriksa kamar pelaku dengan alasan pinjam toilet untuk cuci muka. Sesampai di kamar, kecurigaan Ismail bertambah karena melihat 2 kasur yang terpisah dihimpitkan menjadi satu. Setelah ditengok ke arah sana, Ismail melihat korban tengadah di kolong ranjang. Awalnya disangka korban sedang tidur, waktu coba dibangunkan oleh Ismail baru diketahui bahwa korban sudah meninggal,” papar Putu Ika.

Sementara itu, sopir taksi Gede Getas Hariadi, yang kembali ke wisma untuk meminta ongkos sewa taksinya, terkejut.

Sebab, tiba-tiba di sekitar wisma sudah dipenuhi warga dan polisi yang berdatangan usai mayat ditemukan.

Mendengar omongan warga bahwa korban dibunuh oleh Komang Arim, sopir taksi memutuskan untuk menjual kalung emas dari Komang tersebut di toko emas di Jalan Hasanudin, Denpasar.

“Meski sudah merampungkan pemeriksaan saksi-saksi, tidak menutup kemungkinan akan ada pemeriksaan lanjutan. Soalnya agak nggak masuk akal kalau pelaku nggak punya uang sama sekali, dan nekat menyewa penginapan serta cari cewek,” tandas Putu Ika. (*)

sumber

Standard
pura melanting
Informasi

Budha Wage Ukir – Budha Cemeng, Mari Melakukan Penghematan

Hari Buda Wage Ukir merupakan salah satu Rainan yang untuk memuja Beliau Sang Hyang Sri Sedana yang merupakan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam aspek penguasa harta benda

Bude Wage Ukir yang disebut juga Bude cemeng Ukir, pada hari ini, umat Hindu meluangkan waktu untuk mengucapkan rasa terima kasih kehadapan Dewi Laksmi yang telah memberikan kekayaan/rejeki/kemakmuran kepada manusia untuk bertahan hidup. Umat Hindu diharapkan tidak melakukan pemborosan di hari Rainan ini

Makna dan Tujuan Filosofis dari pemujaan terhadap Beliau dalam prabawanya sebagai Ida Bhatara Rambut Sedhana adalah untuk memohon anugraha Beliau dalam berbagai macam wujud dan bentuk kemakmuran untuk segala makhluk hidup ciptaan Beliau.

Di setiap tempat yang digunakan untuk menyimpan uang diberikan sesajen khusus untuk menghormati Dewi Laksmi/Betara Rambut Sedana sebagai rasa terima kasih atas anugerah-Nya

Dipercaya bahwa pada hari ini masyarakat Bali tidak diperbolehkan menggunakan uang untuk hal-hal yang sifatnya tidak kembali berupa wujud barang, misalnya membayar hutang karena dipercaya uang/kekayaan tersebut nantinya tidak dapat kembali selamanya dan menghilang oleh sifat tamak/serakah kita sebagai manusia. Entah benar atau tidak, hal ini adalah mitos yang sangat menarik untuk diyakini karena mengandung unsur yang sangat kental dengan budaya tradisional masyarakat Bali. — sumber

Standard
02-30-47-BRlpW5ECAAE90pa
Informasi

Makna dan Renungan dalam Hari Raya Pagerwesi

Pagerwesi artinya pagar dari besi. Yang melambangkan suatu perlindungan yang kuat. Hari raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak.

Hari Raya Pagerwesi  jatuh pada Buda (Rabu), Kliwon, Sinta. Jika diperhatikan dengan seksama, ada kaitan langsung dengan Hari Raya Saraswati yang jatuh pada Saniscara (Sabtu), Umanis, Watugunung. Dalam sistim kalender wuku yang berlaku di Bali, wuku Watugunung adalah urutan wuku yang terakhir dari 30 wuku yang ada, sedangkan wuku Sinta adalah wuku dalam urutan pertama atau awal dari suatu siklus wuku.

Makna Pagerwesi

Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Makna yang lebih dalam terkandung pada kemahakuasaan Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah, atau dikenal dengan Uttpti, Stiti, dan Pralina atau dalam aksara suci disebut: Ang, Ung, Mang.

Saraswati yang jatuh pada hari terakhir dari wuku terakhir diperingati dan dirayakan sebagai anugerah Sanghyang Widhi kepada umat manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi, diartikan sebagai pembekalan yang tak ternilai harganya bagi umat manusia untuk kehidupan baru pada era berikutnya yang dimulai pada wuku Sinta.

Oleh karena itu rangkaian hari-hari dari Saraswati ke Pagerwesi, mengandung makna sebagai berikut:

  1. Setelah Saraswati, esoknya hari Minggu, adalah hari Banyupinaruh, di mana pada hari itu umat Hindu di Bali melakukan pensucian diri dengan mandi di laut atau di kolam mata air. Pada saat ini dipanjatkan permohonan semoga ilmu pengetahuan yang sudah dianugerahkan oleh Sanghyang Widhi dapat digunakan untuk tujuan-tujuan mulia bagi kesejahteraan umat manusia di dunia dan terjalinnya keharmonisan Trihita Karana, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta.
  2. Kemudian esoknya, hari Senin disebut hari Somaribek, yang dimaknai sebagai hari di mana Sanghyang Widhi melimpahkan anugerah berupa kesuburan tanah dan hasil panen yang cukup untuk menunjang kehidupan manusia.
  3. Selanjutnya, hari Selasa, disebut Sabuh Mas, yang juga tidak lepas kaitannya dengan Saraswati, di mana umat manusia akan menerima pahala dan rezeki berupa pemenuhan kebutuhan hidup lainnya, bila mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi di jalan dharma. Pada hari itu umat Hindu di Bali memuja Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Mahadewa.
  4. Hari raya Pagerwesi di hari Rabu, yang dapat diartikan sebagai suatu pegangan hidup yang kuat bagaikan suatu pagar dari besi yang menjaga agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah digunakan dalam fungsi kesucian, dapat dipelihara, dan dijaga agar selalu menjadi pedoman bagi kehidupan umat manusia selamanya.

Renungan Dalam Pagerwesi

Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan “pager besi” untuk melindungi hidup kita di dunia ini.  Inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat mengisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

Banten Dalam Pagerwesi

Yadnya (Banten) yang paling utama disebutkan pada hari raya Pagerwesi yaitu :
  • Untuk Para Pendeta (Purohita) adalah “Sesayut Panca Lingga” sedangkan perlengkapan  tetandingan bantennya :
  • Daksina,
  • Suci Pras penyeneng, dan
  • Banten Penek.
    • Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi sebagai pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan.
  • Dan Bagi umat kebanyakan yadnya (banten) disebutkan adalah;
    • natab Sesayut Pagehurip,
    • Prayascita,
    • Dapetan.
    • Tentunya dilengkapi Daksina,
    • Canang, dan
    • Sodan.
    • Dalam hal upacara, ada dua hal banten pokok yaitu
      • Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta,
      • dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan.

Semoga pemaparan dalam artikel ini tentang Hari Raya Pagerwesi dapat bermanfaat bagi semeton.Suksma…

Sumber

 

Standard