Sang Kala Tiga, Bhuta Yang Harus Diwaspadai

Hari Raya Galungan yang jatuh pada hari Budha Kliwon Dungulan merupakan hari yang dirayakan sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma. Dalam rangkaian persiapan penyambutan Galungan terdapat berbagai tahapan yang dimulai dari Tumpek Pengatag, Sugihan Jawa & Bali, Penyekeban, Penyajaan, Penampahan Galungan.

Di samping hal-hal tersebut di atas, ada hal lain yang penting yang harus kita waspadai yang merupakan godaan kita dalam menyambut Galungan. Hal tersebut adalah Sang kala Tiga yang selalu melakukan daya upaya untuk menjebak manusia agar gagal mendapatkan hikmah Galungan.

Sang Kala Tiga yang terdiri dari Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan dan Bhuta Amangkurat yang mengganggu manusia pada saat yang berbeda-beda. Mari telaah satu persatu agar bisa waspada dalam menghadapinya.

  • Sang Bhuta Galungan. Bhuta ini mengganggu manusia bertepatan dengan perayaan penyekeban, yaitu pada hari minggu sebelum Galungan. Bhuta Galungan akan menyerang manusia dengan berbagai cara agar bisa ditaklukan. Jadi pertarungan umat manusia dalam rangka kemenangan Dharma melawan Adharma diuji pertama kali oleh Sang Bhuta Galungan. Galungan sendiri berarti penyerangan. Dengan mengikuti proses penyekeban, dimana kita dituntut untuk berbuat baik, maka diharapkan serangan Bhuta Galungan dapat dinetralisir.
  • Sang Bhuta Dungulan. Dungulan berarti menaklukan. Bhuta ini menyerang pada hari Penyajaan Galungan. Apabila kita tidak waspada semenjak hari penyekeban, maka dapat dipastikan Bhuta Dungulan akan dengan mudah menaklukan kita. Penangkal dari Bhuta Dungulan adalah dengan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan Penyajaan dengan serius dan memasrahkan hasilnya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Secara logika, penaklukan sendiri dapat dihindari apabila kita menguasai pengetahuan seperti Widyadara-Widyadari. Sehingga betapa pentingnya kita melakukan prosesi hari Penyajaan untuk menyambut Galunga dan menghindarkan diri dari Bhuta Dungulan.
  • Sang Bhuta Amangkurat. Bhuta Amangkurat bersifat menguasai yang mengganggu manusia pada saat Penampahan Galungan. Bhuta ini sangat ganas dan bersifat tidak ada ampun terhadap manusia yang sudah dikuasainya. Itulah sebabnya maka leluhur kita memberikan cara yang sangat tepat untuk menghadapinya yaitu dengan Penampahan Galungan. Penampahan Galungan mengharuskan kita dengan simbolik untuk mematikan sifat hewani yang ada dalam diri kita agar bisa terhindar dari Bhuta Amangkurat dan berhasil merayakan Galungan. Bila dilihat dari segi filosofi tersebut, betapa pengertian Penampahan Galungan yang benar yaitu untuk memadamkan nafsu hewani akan menjadi sangat penting karena bisa menghindarkan kita dari kemunduran.

    Kemenangan dalam menghadapi Sang Kala tiga diwujudkan dengan cara natab byakala pada saat sore hari di hari Penampahan Galungan. Inti dari byakala sendiri adalah penyucian diri kita setelah melalui berbagai godaan dan kemungkinan kekotoran yang melekat di diri kita.

    Saat ini kebiasaan dalam melakukan byakala mendapatkan tantangan dari ketidaktahuan dan kesibukan masyarakat kita. Hal ini bisa disikapi dengan bijaksana dengan cara melakukan pembersihan diri yang dilakukan dengan cara sederhana yang intinya tetap pada tataran penyucian diri.

    Bila melihat betapa proses dan godaan yang harus dilalui sebelum menyambut Galungan sangat berat, maka wajarlah leluhur kita mengatakan bahwa Galungan merupakan hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Sudah tentu disini harus ditekankan bahwa semua proses harus dilalui dengan benar dan penuh kesadaran akan pentingnya proses tersebut.  —sumber

Sejarah Patung Kanda Pat Sari Klungkung

“Tempatnya di Perempatan Agung?”

“Patung Catur Muka dong…”

“Catuspatha kali yaaa??”

“Patung Perempatan Agung siihhh…”

“Patung Kanda Pat Sari mungkin?”

Itulah jawaban beberapa masyarakat Kota Semarapura ketika ditanya mengenai patung yang terletak di perempatan Jl. Untung Surapati – Jl. Puputan. Patung yang berada di jantung bumi serombotan ini tentunya sudah tidak asing lagi. Meski begitu, penyebutan nama patung ini masih menuai argumen berbeda-berbeda. Ada yang menyebutnya Patung Catur Muka, Catusphata, dan Kanda Pat Sari. Bagaimana dengan semeton?

Nama asli patung ini sebenarnya adalah Patung Kanda Pat Sari. Patung Kanda Pat Sari sebagai centre Kabupaten Klungkung kerap dijadikan sebagai pusat berlangsungnya suatu acara. Seperti pelaksanaan upacara tawur agung dan pawai ogoh-ogoh, patung ini menjadi pusat perhatian masyarakat Klungkung serta wisatawan asing. Di tempat ini pula diadakan karnaval dan serentetan acara besar lainnya.

Masyarakat di Bali sering menilai patung adalah produk kebudayaan, ekpresi jiwa, sarana pemujaan, seni, identitas, serta sebagai saksi bisu. Jika dihayati dan dirasakan makna patung tidak akan habis dibicarakan. Patung juga kerap dijadikan sebuah icon dari setiap kabupaten. Patung Catur Muka digunakan sebagai icon Kota Denpasar, Patung Dewa Ruci menjadi icon Kabupaten Badung, Patung Kebo Iwa menjadi icon Gianyar, Patung Kanda Pat Sari menjadi icon Klungkung, dan lain-lain. Semua ini adalah karya-karya yang telah mendapat tempat di hati masyarakat. Keberadaan patung-patung ini telah membangun spirit peradaban.

Patungkarya arsitek Ida Bagus Tugur ini memiliki filosofi penting. Empat patung yang mengambil filosofi “Catur Sanak” bersama-sama memperoleh makna dari mitologi tentang air suci yang berasal dari “Sindu Rahasia Muka”. Patung ini berlatar kisah tentang keempat “saudara” manusia saat lahir yakni ari-ari (Sang Anta), tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala), dan air nyom (Sang Dengen), usai mendapat anugerah berganti nama menjadi Sang Anggapati (Bhagawan Penyarikan) berkedudukan di timur, Sang Prajapati (Bhagawan Mrcukunda) di selatan, Sang Banaspati (Bhagawan Sindu Pati) di barat dan Sang Banaspatiraja (Bhagawan Tatul) di utara.

Menurut budayawan Klungkung Kanda Pat Sari memiliki arti yakni empat saudara yang sudah memiliki suatu kekuatan murni dari unsur-unsur yang memberikan kebahagiaan dalam kehidupan. Empat saudara tersebut lahir dan mati bersama. Ketika ada seseorang yang jatuh, disana akan dilakukan upacara “Ngenteg Bayu”. Upacara itu dilakukan agar saudara-saudara yang tertinggal disana kekuatannya kembali kepada kita, baik itu ari-ari, tali pusar, darah, dan air nyom.

Meski sering disamakan, filosofi antara Catur Muka dan Kanda Pat Sari sebenarnya sangatlah berbeda. Catur muka memiliki arti yaitu bermuka empat yang dimiliki oleh Bhatara Brahma, yaitu berpengelihatan empat pandangan arah penjuru. Sedangkan Kanda Pat Sari adalah empat saudara yang mewakili dari kiblat masing-masing.

Lalu kenapa bisa beredar berbagai istilah untuk menyebut patung ini? Kondisi seperti ini sudah ada sejak zaman kakek nenek kita. Kurangnya pemahaman dan sosialisasi adalah penyebab utama kesalahpahaman masyarakat. Sejak awal masyarakat cenderung menyebut patung itu adalah Patung Catur Muka, sehingga tertanamlah jika itulah penyebutan yang sebenarnya.

Pemerintah sendiri telah memberikan perhatian khusus terhadap patung ini. Terbukti dengan adanya berbagai perawatan dan juga aksesoris lampu yang ditambahkan. Tak hanya pemerintah, namun segenap masyarakat juga harus ikut berkontribusi dalam menjaga eksistensi patung ini sehingga tidak ada lagi salah penyebutan icon khas Kabupaten Klungkung.  —sumber

Aturan Posisi Tidur Yang Benar Menurut Hindu Bali

Bali, memang menjadi sebuah pulau dengan beribu adat istiadat yang sangat kental dan masih terjaga dengan amat baik.  Hari ini saya akan mencoba memberikan alasan dan pedoman Mengapa Umat Hindu Posisi Tidur tidak Boleh Di Teben. Konsep luan-teben atau hulu-hilir.Konsep ini terkait dengan kosmologi mata angin. Orang Bali umumnya meletakkan tempat tidur searah utara-selatan atau timur-barat. Jadi, ketika tidur, kepala kita ke arah utara atau timur, kaki ke arah selatan atau barat. Mengapa demikian?

menurut Nitisastra VII, 1-2.

” Jika kepalamu di timur, akan panjang umurmu. Jika di utara, engkau mendapatkan kejayaan. Jika letak kepalamu di barat, akan mati rasa cinta padamu, engkau akan dibenci para sahabatmu; dan jika membujur ke selatan, akan pendek umurmu, dan menyebabkan rasa duka cita”.

Tidur itu tidak dilarang, tapi tidur yang sembarangan ada konsekuensinya. Sebagai masyarakat yang dikenal dengan aturan-aturan adat yang kental dan masih terjaga, masyarakat Bali hingga kini masih meyakini bahwa tidur tidak boleh sembarangan. Mulai dari sikap atau posisi tidur,  tempat tidur, hingga bangunan yang boleh dijadikan sebagai tempat tidur pun diatur sedemikian rupa dalam adat Bali. Terdapat tiga macam tempat berisitirahat yang disebutkan dalam sastra Bali, yaitu:

  • Galar: istirahat untuk beberapa saat dengan tidur
  • Galir: istirahat untuk beberapa menit atau pelepas lelah dengan duduk dan bersantai
  • Galur: istirahat untuk perjalanan pulang, yang dalam istilah Bali disebut dengan “mulih ke desa/gumi wayah” alias mati

Seperti dikutip dalam blogsepisunyi.blogspot.com Pada dasarnya, umat hindu sangat mensucikan 9 penjuru arah mata angin. DEWATA NAWA SANGA. Tapi, dalam hal ini, (arah kepala waktu tidur), ada konsep palemahan (tata ruang) yang mengatur dalam hal ini. Dalam tata adat di bali, setiap keluarga hindu bali punya tempat pemujaan (sangah/merajan) yang di bangun di sebelah timur (tepatnya, kaje kangin) dari areal pekarangan yg di tempati. Dan di bali jg ada konsep (me-hulu gunung). Masyarakat hindu bali menggunakan gunung sebagai arah utara.

Nah, untuk lebih mensucikan tempat pemujaan, maka masyarakat hindu di bali mengatur arah kepala untuk tidur dengan sedemikian rupa. Dalam hal ini, kepala ada otaknya, otak sebagai pusat dari semua yang ada pada diri manusia. Maka, dengan sendirinya kepala kitalah yg paling dekat dengan tempat pemujaan. Ini untuk mengingatkan kita untuk selalu dekat, mengingat, dan melaksanakan ajaran hindu. jadi masalah posisi tidur kiat di bali ini bukan AGEM MULE KETO. Dan ada yg lucu disini, ajaran tidur hindu di bali, telah secara tidak langsung membuat penduduk bali mempersatukan diri lewat posisi tidur. Di bali utara dan bali selatan jika tidur dgn posisi sama2 kepala di utara, maka ketemunya kepala dengan kepala. Utara di bali selatan, adalah selatan di bali utara.

Selain Sikap Tidur yang tidak boleh mengarah ke teben, Sikap badan saat tidur juga ada pedomannya. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

Kaki tidak boleh menyilang

Percaya tidak percaya, tertidur dengan kaki menyilang (x) akan membuat manusia mengalami mimpi buruk. Meski belum ada bukti ilmiah yang mendukung mitos ini, banyak masyarakat Bali yang sering mengalaminya. Mereka sering bermimpi buruk ketika tanpa sadar tertidur dengan kaki menyilang. Oleh karena itu, masyarakat Bali berusaha meluruskan kakinya sebelum tidur. Selain bertujuan menghindari mimpi buruk, tidur dengan kaki yang lurus juga dipercaya dapat melancarkan aliran darah.

Tidak boleh berselimut hingga menutupi wajah

Tidur dengan seluruh tubuh tertutup selimut membuat kita terlihat seperti orang yang meninggal dunia. Hal ini adalah tabu bagi masyarakat Bali. Menurut kebudayaan mereka, tidur dengan berselimut menutupi seluruh tubuh dapat mengundang energi jahat dalam tidur kita. Jadi, kita hanya boleh berselimut hingga sampai batas leher atau pundak. Jika udara terlalu dingin, maka disarankan untuk menggunakan topi (atau penutup kepala sejenis) untuk melindungi dari udara dingin tersebut.

Lalu bagaimana jika aturan tentang tidur ini dilanggar?

Secara adat atau hukum sosial tidak ada hukuman bagi orang yang melanggar aturan-aturan tersebut. Namun, secara “Niskala” akan berdampak pada kehidupan pemakai tempat istirahat yang bersangkutan. Mulai dari sakit hingga kematian. Khusus untuk tempat tidur, memiliki aturan tambahan yaitu; apabila tempat tersebut sudah dianggap selesai dibuat dan sudah pernah digunakan selama 3 hari, maka tempat tesebut dianggap sudah hidup seperti halnya bangunan yang telah diupacarai. Bila ada orang yang berani memotong / merubahnya kemudian setelah itu digunakan sebagai tempat tidur lagi, maka yang memotong / merubah serta yang menggunakannya akan mengalami gangguan dalam kehidupannya. Aturan ini sudah baku, karena sudah banyak yang merasakan, sehingga Adat Bali tidak mengaturnya secara tertulis kecuali yang tertera dalam Kidung Nitisastra. Selain bertujuan untuk memperoleh rasa nyaman, aturan-aturan tidur ini juga diyakini bermanfaat untuk kesehatan. —sumber

Makna Banyu Pinaruh

Banyu Pinaruh dirayakan setelah Rahina Saraswati. Banyu pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air (kehidupan), dan pinaruh yang berasal dari kata weruh atau pinih weruh. Weruh sendiri bermakna pengetahuan, sehingga dapat dikatakan banyu pinaruh adalah hari dimana kita memohon sumber air pengetahuan.

Banyu pinaruh merupakan titik awal periode wuku di Bali, sehingga akan sangat baik jika sebelum kita mengawali suatu periode yang baru dan sebelum kita mengisi diri dengan pengetahuan, alangkah baiknya kita membersikan tubuh ini dengan air suci (penglukatan). Disebutkan dalam Manawa Dharmasastra Buku V. 109

“Adbhirgatrani cuddhyanti manah satyena cuddhyati, widyatapobhyam bhutatma, buddhir jnanena cuddhyati.”

Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa disucikan dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dengan pengetahuan yang benar.

Melukat Saat Banyu Pinaruh

Penglukatan dapat dilakukan di beberapa tempat seperti Sumber mata air (klebutan), Campuhan (pertemuan aliran sungai dan laut), Pantai, Merajan. Penglukatan sendiri dapat dipuput oleh Pandita, Pinandita/Pemangku, ataupun dilakukan sendiri langsung ke sumber-sumber mata air seperti klebutan, campuhan, maupun di pantai. Banten pengelukatan yang paling sederhana dapat menggunakan canang sari atau pejati sebagai atur piuning/permakluman dalam memohon air suci.

Drs. Nyoman Sujana mengatakan, saat Banyu Pinaruh umat melaksanakan suci laksana, mandi dan keramas menggunakan air kumkuman di segara. Kegiatan itu bertujuan untuk ngelebur mala. ”Segara itu kan tempat peleburan dasa mala. Dengan melakukan prosesi itu diharapkan terjadi keseimbangan lahir dan batin,” katanya.

Selain pada tempat-tempat yang telah disebutkan diatas, jika tidak sempat juga bisa dilakukan dirumah. Semua itu dibenarkan oleh ajaran agama Hindu seperti yang tertuang dalam buku kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu I-XI.

Jadi dapat disimpulkan Rahina Banyu Pinaruh adalah hari yang baik, hari dimana kita memohon sumber air pengetahuan untuk membersihkan kekotoran atau kegelapan pikiran (awidya) yang melekat dalam tubuh umat.  Seperti yang tertuang dalam   Bhagavad Gita IV.36, yaitu berbunyi:

“Api ced asi papebhyah, sarwabheyah papa krt tamah, sarwa jnana peavenaiva vrijinam santarisyasi

Artinya : walau engkau paling berdosa di antara manusia yang memiliki dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan, lautan dosa akan dapat engkau seberangi

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton. Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap atau kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama. Suksma… —sumber

 

 

 

Kisah Penghuni Neraka Menurut Hindu Bali

Berikut ini adalah cerita tentang pelaksanaan sanksi bagi para atma sesuai perbuatan yang dilakukan saat menghuni raga manusia di mayapada.

Pertama-tama terlihat Bhuta Tog-tog Sil, babutan (makhluk angkara) dengan wujud mata yang besar menghakimi atma tattwa (atma yang menyalahgunakan pengetahuan tattwa) dan atma curiga (atma yang penuh curiga, mencurigai yang tidak patut dicurigai). Disebelahnya, Bhuta Naya (raksasa yang kadang tampak kadang tidak nampak) bersama-sama Bhuta Celeng, babutan berbentuk babi menghukum atma yang sewaktu di mayapada berprilaku buruk, jahat. Tak jauh dari itu, tampak Bhuta Abang, babutan yang berwujud raksasa berkulit merah menyala sedang menggotong atma lengit, atma yang semasa hidupnya malas bekerja, akan dicemplungkan ke bejana besar dengan air mendidih yang disebut kawah gomuka.

Disebelah kanannya dari bejana itu, tampak Sang Bhuta Ireng, babutan berwujud raksasa berkulit hitam bersama Sang Bhuta Prungut, babutan yang bertubuh besar, berkulit dan berwajah angker menggotong atma corah, atma yang semasa hidupnya senantiasa berprilaku buruk untuk dicemplungkan ke kawah gomuka. Sementara itu, Bhuta Ode-ode, babutan yang bertubuh gemuk dengan kepala plontos meniup api di bawah jambangan kawah sehingga airnya terus mendidih. Tidak jauh dari kawah gomuka, Sang Suratma dengan wujud raksasa yang penuh wibawa, penguasa para atma sedang menghukum atmaning usadha, karena dulu dukun yang menguasai ilmu pengobatan yang dahulu pernah lalai menyembuhkan orang sakit melakukan maal praktek, dan selalu meminta imbalan yang tinggi kepada orang yang diobatinya. Disebelahnya Sang Bhuta Wirosa yang berwujud raksasa maha sakti sedang menghukum atma mamaling nasi, ini terjadi karena pada saat di mayapada ia suka mencuri makanan. Karena itu sebaiknya jangan sekali-kali mencuri nasi, seberapa pun lapar dirasakan.

Beberapa meter dari tempat itu, Sang Bhuta Wingkara yang bengis bersama Bhuta Lilipan yang berwujud aneh, memiliki belalai seperti gajah dan tubuhnya seperti tubuh singa, mulutnya penuh bisa seperti ular sedang menyiksa atmaning wong aboros, atma yang suka berburu membunuh binatang yang tidak patut dibunuh. Disebelahnya lagi, tampak Sang Bhuta Mandar dan Sang Bhuta Mandir, dua raksasa bengis saudara kembar sedang menggergaji kepala atma wong alpaka guru, atma yang tidak melakukan kewajiban sebagai putra yang baik (suputra) karena melalaikan kedua orangtuanya, melalaikan kewajibannya.

Di tempat lain Sang Jogor Manik, sedang mengadili dua atma, yang satu atma kedi dan yang satu lagi atma kliru, yang satu laki-laki tapi seperti perempuan, yang satu lagi perempuan seperti laki-laki. Tidak jauh dari situ, mereka melihat Sang Jogor Manik sedang menghukum atma angadol prasasti atau atma yang menjual prasasti. Sedangkan di sebelahnya Bhuta Tog-tog Sil yang matanya besar sedang menyiksa atma angadol prasasti lainnya. Berdekatan dari tempat itu, banyak atma yang disebut atma tan pasantana, atma yang tidak memiliki keturunan digantung dipohon bamboo. Sementara itu, atma nora matatah, atma yang belum melaksanakan upacara potong gigi sambil menggigit pohon bamboo disiksa oleh Bhuta Brungut yang menyeramkan sedang menghunus pedang.

Beranjak selangkah dari tempat itu, lagi-lagi ditemukan Sang Jogor Manik sedang berhadapan dengan atma aniti karma, atma yang semasa hidupnya sangat ramah tamah dan tidak membanding-bandingkan tamu yang datang kepadanya. Disebelahnya, atma angrawun yang semasa hidupnya meracuni banyak orang sedang diberi makan medang (bulu halus bambu) oleh Bhuta Ramya yang suaranya gemuruh. Sedangkan, berdekatan dengan itu, Sang Bhuta Edan yang suka mengamuk sedang menyiksa atmaning wong andesti, atma yang semasa hidupnya menggunakan ilmu hitam untuk menyakiti orang lain. Disebelahnya lagi, atma wong bengkung yang tidak mau menyusui bayinya disiksa dengan mematukkan ular tanah pada puting susunya oleh Bhuta Pretu yang menjerit-jerit memekakkan telinga.

Ditempat itu pula, Bhuta Janggitan yang menyeramkan sedang menyiksa atma pande corah, atma ahli membuat senjata mungkin bom yang untuk menghancurkan orang lain. Selain itu, ada lagi kawah gomuka dengan air mendidih berisi atma yang direbus karena kesalahannya pada waktu menjelma menjadi manusia sebagai koruptor, suka menfitnah, maling, madat dll. Tampaknya di neraka yang luas ini, tidak terhitung jumlah kawah gomuka bertebaran dimana-mana.

Demikian pula, begitu banyak atma yang bersalah pada masa lalu dihukum sesuai tingkat kesalahannya. Atma Jalir, baik laki-laki maupun perempuan yang semasa hidupnya suka berselingkuh, disiksa oleh Bhuta Lendi maupun Bhuta Lende dengan membakar kemaluannya. Dijumpai pula Sang Jogor Manik yang seram dan menakutkan sedang menguji atma putus, yaitu atma yang dalam kehidupannya di dunia tiada tercela, selalu berbuat baik dan pandai. Tiada berapa lama kemudian, sang atma putus diijinkan memasuki sorga.

Begitulah kiranya penghukuman para atma sesuai kesalahannya.

Setelah membaca tulisan yang kental berbagai etika yang menjadi dasar prilaku umat Hindu, cerita diatas seperti menepuk pundak untuk mengambil jeda langkah sejenak diantara hiruk pikuk pergaulan hidup dan merenungkan kembali pentingnya ajaran Karmapala, dimana setiap perbuatan akan mendapatkan pahala yang setimpal. —sumber

Dongeng Sang Yamadipati, Dewa Pencabut Nyawa

Banyaknya keyakinan di dunia ini membuat uniknya perbedaan yang terjadi termasuk cerita mistis yang meliputinya. Setiap kepercayaan pasti memiliki cerita mistis tersendiri. Cerita mistis dalam hal kepercayaan selalu menyangkut antara Allah atau Dewa ataupun Malaikat. Yamadipati, salah satu Dewa pencabut nyawa yang masih diyakini oleh beberapa orang. Yamadipati adalah anak Sang Hyang Ismaya atau Semar dan Dewi Kanastri atau Kanestren. Ia mempunyai saudara kandung yaitu: Sang Hyang Bongkokan, Sang Hyang Patuk, Sang Hyang Temboro, Sang Hyang Surya, Sang Hyang Wrehaspati, Sang Hyang Candra, Sang Hyang Kamajaya, Sang Hyang Kwera, Dewi Darmanastiti, Dewi Superti. Isteri Sang Hyang Yamadipati adalah Dewi Mumpuni, seorang bidadari yang cantik jelita, pemberian Batara Guru.

Orang memanggilku dengan beberapa nama yaitu: Sang Hyang Yamadipati, Sang Hyang Yama, Sang Hyang Petraraja yang berarti rajanya neraka dan juga disebut Sang Hyang Yamakingkarapati yang artinya panglimanya makhluk-makhluk Kingkara atau makhluk penjaga neraka. Nama-nama itu berkaitan dengan tugas yang diembannya yaitu sebagai penunggu neraka. Selain sebagai penunggu neraka, Sang Hyang Yamadipati bertugas mencabut nyawa manusia yang sudah sampai pada batas waktunya.

Digambarkan bahwa pada saat ia melakukan tugasnya, Yamadipati membawa dhadhung, sejenis tali tampar berukuran besar untuk mengambil nyawa orang. Yamadipati berujud raksasa besar, berjubah dan menakutkan. Bukan hanya ujudnya, tugas yang embannya pun membuat orang takut jika kedatangan Yamadipati. Bahkan orang yang bermimpi bertemu dengan Yamadipati dipercaya akan mendapat celaka. Di mana Yamadipati datang di situ akan terjadi kematian.

Oleh karena dua tugas yang disandangnya yaitu Dewa pencabut nyawa dan Dewa penunggu neraka, Yamadipati tidak pernah tinggal di kahyangan yang telah disediakan yaitu Kahyangan Hargadumilah. Dulu ketika masih ada Dewi Mumpuni isterinya, Yamadipati selalu meluangkan waktu untuk pulang. Tetapi saat ini setelah Dewi Mumpuni meninggalkannya, Yamadipati jarang sekali pulang di Hargadumilah.

Menurut pengakuan isterinya yang disampaikan, bahwasanya Dewi Mumpuni mau menjadi isteri Yamadipati karena rasa takut kepada Batara Guru yang telah memberikan dirinya kepada Yamadipati. Namun sesungguhnya Dewi Mumpuni tidak mempunyai rasa cinta kepada Yamadipati yang berwajah menakutkan. Dewi Mumpuni mencintai Bambang Nagatamala putra Sang Hyang Antaboga, Dewa Penguasa bumi.

Walaupun berwajah menakutkan dan bertugas pada dunia kematian yang lebih menakutkan, Yamadipati memiliki kebesaran jiwa. Demi kebahagiaan isterinya ia merelakan Dewi Mumpuni diperisteri oleh Bambang Nagatatmala. Sejak peristiwa itu hatinya hancur, jiwanya berkeping-keping, Yamadipati jarang sekali pulang di kahyangan Hargodumilah yang telah kosong, Ia suntuk menjalani tugasnya.

Pada suatu hari ketika ia menjalankan tugasnya mencabut nyawa seseorang yang bernama Setyawan, ia sungguh terpana dengan isteri Setyawan yang bernama Sawitri. Rasa terpana Yamadipati tidak hanya karena kecantikan Sawitri, tetapi terlebih karena kesetiaannya kepada Suaminya. Tidak seperti Dewi Mumpuni yang tidak cinta dan tidak setia, gumannya. Yamadipati meneteskan air mata, ia dahaga akan kasih seorang wanita yang cantik penuh cinta panjang sabar dan setia seperti Sawitri. Oleh karenanya Yamadipati tidak sampai hati menolak permohonan Sawitri agar Setyawan dihidupkan. Hyang Yamadipati mengembalikan nyawa Setyawan agar Sawitri hidup bahagia bersamanya. Dan benarlah Sawitri hidup bahagia bersama Setyawan melahirkan anak-anaknya.

Dalam hidupnya Yamadipati tidak pernah mendapatkan kebahagiaan, tetapi ia cukup terhibur dapat memberikan kebahagiaan tidak saja kepada Sawitri yang setia kepada suaminya, tetapi juga memberi kebahagiaan kepada Dewi Mumpuni isterinya yang telah mengkhianatinya.–sumber

Sejarah Meceki

Ceki adalah salah satu permainan kartu yang dianggap sudah menjadi tradisi sejak dulu. Permainan Ceki ini dulunya sering dimainkan oleh kaum wanita, tetapi juga digemari oleh kaum – kaum lain di Malaysia, Singapura dan Indonesia. Ceki atau Cekian, dan dibeberapa negara lain juga disebut koa atau pei adalah sejenis permainan kartu yang merupakan kegiatan berjudi tradisional suku kuno yang turun temurun. Pada zaman sekarang, permainan ceki agak menurun popularitasnya di Malaysia dan Singapura, tetapi masih cukup populer di Indonesia. Permainan Kartu ceki dikatakan bersumber dari permainan kartu purba yang pernah dibuat di negara Cina kuno dan Permainan kartu Ceki merupakan sumber dari permaninan mahjong/mahyong yang sekarang menjadi tren bagi kaum chinese di beberapa negara di dunia.

Permainan dengan kartu ceki yang paling umum dan banyak diminati orang dari kelas bawah sampai atas yaitu permainan ceki/meceki. Permainan ini dilakukan berlima mengelilingi sebuah meja dengan duduk bersila. Ada juga permainan cap beki/cap jeki yang merupakan permainan dengan banyak peserta dan banyak aturannya.

Sejak Kapan Permainan Ceki Menjadi Tradisi di Bali?

Permainan Kartu Ceki di Bali sudah mulai menjadi tradisi sejak dulu, belakangan ini mulai populer kembali karena keunikannya. Tidak hanya orang tua, anak-anak muda pun menggemari permainan kartu ceki ini. Sejak dipergunakan sebagai hiburan pada saat Megebagan (Begadang di Rumah Duka Saat ada Sanak Keluarga atau Warga Banjar yang Meninggal) Agar tidak mengantuk, sepertinya permainan kartu ceki ini sudah menjadi tradisi wajib.

Sejarah Tradisi Permainan Kartu Ceki Hingga Menjadi Kompetisi Tournament

Banyak orang berpikir Ceki identik dengan judi. Tapi kesan itu berusaha ditepis dengan menjadikan permainan ini sebagai olahraga rekreasi. Salah-satunya melalui turnamen yang akan digelar oleh Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Daerah Bali.

Turnamen Ceki sudah digelar sejak bulan Desember 2012 “Ini adalah program perdana FORMI Bali, setelah dilantik beberapa waktu yang lalu oleh Ketua FORMI Pusat, Hayono Isman di Denpasar,”.

FORMI sendiri adalah salah satu dari tiga pilar sistem keolahragaan nasional sesuai UU no 3 Tahun 2005. Mengingat stigma judi yang begitu kuat melekat pada ceki, maka usaha menjadikan Ceki sebagai olahraga rekreasi ini telah melalui proses pengkajian serius. Yakni, melalui forum group discussion (FGD) , diadakan pada bulan September 2012 lalu. FGD melibatkan dari unsur Parisadha Hindu Dharma, Majelis Utama Desa Pekraman, Akademisi dan Kepolisian.

Kesimpulan dari FGD tersebut adalah bahwa sepanjang kegiatan ceki tersebut tidak mengandung unsur perjudian, dalam hal ini taruhan dalam bentuk apapun, maka ceki dapat menjadi kegiatan rekreasi yang legal dan pada ujungnya menjadi kegiatan social budaya yang sehat dan diterima masyarakat luas.

Itu sebabnya Panitia Turnamen Ceki 2012 yang digawangi oleh Gus Marhen beberapa tahun yang lalu, telah menyusun tata tertib dan aturan main yang sesuai dengan hasil FGD berupa Buku Panduan Turnamen Ceki. Di dalamnya unsur taruhan tidak ada sama sekali, dan mengubahnya menjadi sistem angka penilaian yang umum berlaku dalam olahraga pertandingan lainnya seperti dalam olahraga kartu Bridge, misalnya.

Sejak Pertama Kali diladakan, Turnamen Olahraga Rekreasi Ceki di GOR Kompyang Sujana, Denpasar, telah diikuti oleh ratusan atlet ceki dari seluruh Kabupaten/Kota di Bali dimana pendaftarannya telah dibuka di masing-masing daerah.

Dengan adanya Turnamen Olahraga Rekreasi Ceki  ini diharapkan akan menambah khasanah kekayaan permainan atau rekreasi tradisi masyarakat Indonesia seperti yang diemban oleh FORMI sebagai wadah pengembangan olahraga berbasis rekreasi dan tradisi masyarakat Indonesia.–sumber

Sistem Pembagian Warisan Dalam Hukum Waris Adat Bali

Pewarisan adalah hubungan hukum atau kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara pewaris dengan ahli warisnya atas harta warisan yang ditnggalkan, baik setelah pewaris meinggal ataupun selagi pewaris itu masih hidup. Hubungan hukum ini merupakan kaidah-kaidah yang bersifat mengatur dan merupakan keadaan hukum yang mengakibatkan terjadi perubahan hak dan kewajiban secara pasti dan melembaga. Dengan demikian perubahan dan peralihan dari suatu bentuk ke bentuk yang lain dan merupakan suatu proses yang harus dilakukan secara tepat dan beraturan.
Proses yang dimaksudkan dalam hal ini adalah cara sebagai suatu upaya yang sah dalam perubahan hak dan kewajiban atas harta warisan dan besarnya perolehan berdasarkan kedudukan para pihak karena ditentukan oleh hukum.

Harta warisan merupakan objek hukum waris yang berarti semua harta yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal dunia ( pewaris ). Pengertian harta dalam hal ini tidak saja menyangkut harta yang mempunyai nilai ekonomis saja, melainkan meliputi pula harta yang mempunyai arti religius. Setiap keluarga Hindu Bali mempunyai harta / kekayaan keluarga berupa harta benda baik yang mempunyai nilai-nilai magis religius yaitu yang ada hubungannya dengan keagamaan / upacara-upacara keagamaan dan harta tidak mempunyai nilai magis religius antara lain : harta akas kaya, harta jiwa dana, harta druwe gabro.

Ditinjau dari macamnya, harta warisan menurut hukum adat dapat dibedakan menjadi :

1. Harta Pusaka

Harta Pusaka adalah harta yang mempunyai nilai magis religius dan lazimnya tidak dibagi-bagi. Proses pewarisannya dipertahankan di lingkungan keluarga secara utuh dan turun temurun jangan sampai keluar dari lingkungan keluarga. Di Bali harta pusaka ini umumnya berkaitan dengan tempat-tempat persembahyangan, sehingga keutuhannya tetap dipertahankan demi kepentingan keagamaan dan bukan untuk kepentingan lain. Hal ini mengingat masyarakat Bali yang mayoritas menganut agama Hindu. Adapun yang termasuk jenis harta pusaka di Bali adalah sanggah, keris pengentas, alat-alat upacara, tanah bukti pemerajaan, laba pura dan druwe tengah.

2. Harta bawaan

Harta bawaan adalah harta warisan yang asalnya bukan didapat karena jerih payah bekerja sendiri dalam perkawinan melainkan merupakan pemberian karena hubungan cinta kasih, balas jasa
atau karena sesuatu tujuan. Pemberian ini dapat terjadi dalam bentuk benda tetap atau barang bergerak. Di Bali harta bawaan ini disebut harta bebaktan yang terdiri dari :
a). Harta akas kaya yaitu harta yang diperoleh suami / istri masing-masing atas jerih payah sendiri sebelum masuk jenjang perkawinan.  Setelah kawin dan mereka hidup rukun sebagai suami istri, maka harta akas kaya ini jadi harta bersama / druwe gabro

b). Harta jiwa dana yaitu pemberian secara tulus ikhlas dari orang tua kepada anaknya baik laki-laki maupun wanita sebelum masuk perkawinan. Pemberian jiwa dana ini bersifat mutlak dan berlaku seketika, ini berarti bahwa penerima jiwa dana dapat memindahtangankan harta tersebut tanpa meminta izin dari saudara-saudaranya. Begitu pula apabila anak wanita yang kawin keluar, istri yang cerai dari suamnya, ia tetap berhak membawa harta jiwa dana tersebut.

3. Harta bersama

Harta bersama yaitu harta yang diperoleh suami istri dalam perkawinan. Pada hukum adat Bali disebut harta druwe gabro. Penyebutan istilah harta bersama ini ternyata belum ada keseragaman di Bali, ada yang menyebut guna kaya, maduk sekaya, pekaryan sareng, peguna kaya, sekaya bareng kalih dan sebagainya. Apabila terjadi perceraian, barang-barang yang disebut barang guna kaya ( druwe gabro ) itu harus dibagi dua sama rata.

Menurut hukum adat anak-anak dan si peninggal warisan merupakan golongan ahli waris yang terpenting. Oleh karena mereka pada hakikatnya merupakan satu-satunya golongan ahli waris, sebab lain-lain anggota keluarga tidak mejadi ahli waris, apabila si peninggal warisan meninggalkan anak-anak. Jadi dengan adanya anak-anak, maka kemungkinan lain-lain anggota keluarga dari si peninggal warisan untuk menjadi ahli waris tertutup.

Menurut hukum adat Bali yang menganut sistem kekeluargaan patrilineal maka yang menjadi ahli waris adalah anak laki-laki, sedangkan anak perempuan tidak sebagai ahli waris. Sebagai pengecualian dari sistem patrilineal dalam hukum kekeluargaan Bali, apabila pewaris hanya mempunyai anak perempuan maka si anak dapat dijadikan sentana rajeg dengan melakukan perkawinan nyeburin yaitu di wanita kawin dengan si laki-laki dengan menaik laki-laki itu ke alam keluarganya. Di sini si wanita menjadi berkedudukan sebagai laki-laki, sedangkan si laki-lakiberkedudukan sebagai perempuan. Bagi si wanita akan berlaku hukum kewarisan yang lazim berlaku untuk laki-laki di keluarga itu. Bagi lakinlaki yang kawin nyeburin, kedudukannya dalam warisan adalah sebagai wanita.

Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan sama sekali, maka pewaris mengangkat anak laki-laki dari saudara kandung lelaki tersebut, demikian seterusnya sehingga hanya anak laki-laki yang jadi ahli waris dan terhadap segala sesuatu harus didasarkan atas musyawarah dan mufakat para anggota kerabat. Pendapat ini sesuai dengan Paswara Residen Bali dan Lombok 1900, yang menentukan syarat-syarat pengangkatan sentana. Pasal 11 dari paswara menentukan seorang boleh mengangkat sentana dari keluarga kepurusa terdekat dan paling jauh dalam derajat kedelapan ( mingletu menurut stelsel klasifikasi ) menyimpang dari ketentuan ini hanya dibolehkan dengan persetujuan keluarga lebih dekat dari calon pertama itu atau degan izin pemerintah.

Di Bali akibat dari pengangkatan anak (Adopsi) dalam hukum adat adalah bahwa anak itu mempunyai kedudukan sebagai anak yang lahir dari perkawinan suami istri yang mengangkatnya sama seperti anak kandung dan hubungan dengan keluarga asal jadi putus.  Demikian halnya dengan kedudukan anak angkat di Bali pada umumnya anak sentana memperoleh kedudukan dan hak (antara lain hak waris ) yang sama dengan seorang anak kandung. —sumber

Tradisi Perang Ketupat Di Bali

Bali telah  terkenal dengan kebudayaan oleh karena  keunikan dan kekhasannya yang tumbuh dari jiwa agama Hindu. Agama Hindu  yang merupakan roh  kebudayaan dan adat  luluh menjadi satu kedalam kreativitas masyarakat Bali. Setiap aktivitas  mengandung unsur-unsur  relegi didasarkan atas suatu getaran jiwa yang disebut emosi keagamaan. Emosi keagamaan  ini menjiwai  pula sistem keyakinan yang diturunkan melalui mitologi-mitologi dan dongeng-dongeng suci yang hidup di masyarakat. Sistem  keyakinan erat kaitannya dengan ritus dan upacara yang menentukan  tata urut dari  unsur-unsur, rangkaian upacara serta peralatan yang  digunakan dalam upacara.

Salah satu upacara agama adalah  upacara Perang Ketupat merupakan salah satu  bagian dari  pelaksanaan  yadnya  sebagai dasar  pengembalian Tri Rna. Weda mengajarkan, Tuhan menciptakan alam semesta ini berdasarkan yadnya. Setiap hari  Purnama Kapat, “Upacara Perang Ketupat” yang dilaksanakan  oleh masyarakat  Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung, ini sangat semarak, sarat  dengan perlengkapan upakaranya,  upacara ini  tergolong menengah.

Perang Ketupat  yang dilakukan  masyarakat Kapal  di Pura Desa adalah merupakan bakti dan bukti umat terhadap alam dan Tuhan. Bakti adalah perwujudan dan cinta kasih yang direalisasikan dalam bentuk upacara “Perang Ketupat” yang di dukung ketulusan hati. Sebagai perwujudan cinta kasih  mereka mengorbankan segala-galanya,  dari yang terindah sampai yang termegah. Pengorbanan atau yajna di gelar dalam  prosesi “Perang Ketupat“ yang semarak, sarat dengan upacara perlengkapan.

Di zaman sekarang akibat  perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat, masyarakat disibukkan dengan orientasi pemenuhan kebutuhan material,  sehingga pemahaman makna ritual  atau acara agama cenderung menurun, dan bahkan dianggap beban berat atau suatu kegiatan yang tanpa makna.

Zaman boleh maju, orang boleh memiliki intelektualitas tinggi namun kepribadian sebagai orang Hindu harus tetap dijaga dan dipelihara dalam  hal menjunjung nilai-nilai keluhuran ajaran agama Hindu dengan jalan menghayati dan mengamalkan ajaran bertitik tolak terhadap landasan sastra (Sastra Dresta). Perang Ketupat  sebagai salah satu  upacara Dewa Yadnya  yang mengandung  kekuatan magis, dimana kekuatan magisnya sebagai penetralisir kekuatan-kekuatan  alam.  Perang Ketupat adalah simbolis hubungan yang dilakukan  oleh Dewa Rare Angon dengan Dewi Hyang Nini  Bhogawati sebagai lambang  kemakmuran dan kesuburan.

Setiap perubahan cosmos menunjukkan suatu tanda telah terjadi ketidakseimbangan  cosmos yang disebabkan oleh  pelanggaran-pelanggaran terhadap adat dan kebiasaan. Untuk menetralisir atau menyeimbangkan hal tersebut,  upacara ritual dan persembahan  akan dilakukan yang disampaikan melalui  perantara dengan  tujuan adalah  yang Maha Kuasa dengan  wujud kenyataan. Dengan dilaksanakan  upacara ritual maupun persembahan  tersebut merupakan  perlambang akan kekuatan manusia terhadap yang Maha Kuasa sehingga kehidupan manusia penuh dengan kedamaian  dan sejahtera di dunia ini. —sumber

Pengangkatan Anak (Adopsi) Menurut Hukum Adat Di Bali

Pada hukum adat Bali pengangkatan anak dikenal dengan beberapa istilah seperti meras pianak atau meras sentana. Kata sentana berarti anak atau keturunan dan kata meras berasal dari kata peras yaitu semacam sesajen atau banten untuk pengakuan / pemasukan si anak ke dalam keluarga orang tua angkatnya.

Disamping istilah tersebut di atas ada pula yang memakai istilah atau menyebut dengan ngidih sentana / ngidih pianak. Penyebutan tersebut mengandung pula pengertian sama dengan pengertian meras senatana ataupun meras pianak.
Beberapa sarjana memberi pengertian tentang pengangkatan anak yaitu :

Pengertian pengangkatan anak di Bali yang dimaksud dengan anak angkat dalam hukum adat Bali adalah anak orang lain diangkat oleh orang tua angkatnya menurut adat setempat, sehingga dia mempunyai kedudukan sama seperti anak kandung yang dilahirkan oleh orang tua angkatnya tersebut. Hal ini selanjutnya akan membawa akibat hukum dalam hubungan kekeluargaan, waris dan kemasyarakatan. Konsekuensinya disini segala hak dan kewajiban  yang ada ada orang tua angkatnya akan dilanjutkan oleh anak angkat itu sendiri, sebagaimana layaknya seperti anak kandung.

Dari pengertian pengangkatan menurut Hukum Adat Bali seperti tersebut di atas dapat dijabarkan :

  1. Adanya perbuatan melepas si anak dari kekuasaan orang tua kandung.
  2. Adanya perbuatan memasukkan si anak ke dalam kekerabatan orang tua angkatnya.

Pengertian melepaskan si anak adalah perbuatan berupa permintaan calon orang tua angkat terhadap orang tua kandung si anak atau kerabat si anak. Permintaan itu untuk melepas si anak dari
kekuasaan orang tua kandungnya / kerabatnya yang selanjutnya dimasukkan ke dalam keluarga orang tua angkat untuk didudukkan sebagai pelanjut keturunan. Perbuatan hukum ini termasuk pula pengumuman atau siaran yaitu pengumuman yang ditujukan kepada masyarakat adat maupun kepada kerabat-kerabat si anak itu. Adapun maksud dari pengumuman itu agar ada kata sepakat untuk melepas si anak tersebut dan perbuatan tersebutpun menjadi terang.

Pengertian memasukkan si anak ke dalam kerabat orang tua angkatnya : tercermin dalam perbuatan yang berupa pelaksanaan upacara pemerasan atau mewidiwidana. Secara keagamaan hal ini mengandung arti bahwa si anak akan dilepas dari kekuasaan baik dari orang tua kandungnya / kerabat maupun leluhurnya untuk selanjutnya dimasukkan dalam lingkungan kerabat orang tua angkatnya.

Disamping itu upacara tersebut juga mengandung arti bahwa si orang tua angkat selanjutnya akan mengakui si anak tadi sebagai anak kandung sendiri. Mulai saat itulah timbul hubungan hukum antara si anak angkat terhadap orang tua angkatnya. Dengan demikian secara yuridis anak angkat dengan orang tua kandungnya tidak lagi ada hubungan waris mewaris tapi ia mewaris pada orang tua angkatnya.

Bila kita membandingkannya dengan pengangkatan anak di luar daerah Bali misalnya yang mempunyai sistem kekeluargaan parental seperti di daerah Jawa, maka pengangkatan anak tidaklah mempunyai konsekuensi yuridis seperti di Bali. Pada masyarakat adat di Jawa kedudukan anak angkat hanya sebagai anggota keluarga orang tua angkatnya, ia tidak berstatus sebagai anak kandung.

Alasan Pengangkatan Anak Menurut Hukum Adat Bali

Pada mulanya alasan pengangkatan anak di Bali dilakukan semata-mata untuk melanjutkan dan mempertahankan garis keturunan dalam suatu keluarga yang tidak mempunyai anak. Di samping alasan tersebut juga sebagai pancingan agar dapat melahirkan anak kandung, dan keabsahan kekuatan hukum pengangkatan anak tidak terganggu apabila nantinya ibu angkat melahirkan anak kandung. Dengan demikian pengangkatan anak dengan sendirinya mempersaudarakan anak kandung dengan anak angkat.

Pada masyarakat Bali yang beragama Hindu tujuan perkawinan adalah untuk memperoleh anak ( putra ), yang diharapkan dapat melanjutkan peribadatan keluarga seperti melakukan persembahyangan di pura, melaksanakan pemujaan terhadap leluhur mereka. Dengan tujuan agar keluarga tersebut selamat dan memperoleh kehidupan yang lebih baik.  Begitu pentingnya keturunan ( anak ) ini dalam suatu perkawinan sehingga tidak jarang menimbulkan berbagai peristiwa sebagai akibat ketiadaan anak seperti perceraian, poligami dan pengangkatan anak itu sendiri.

Demikian dikatakan bahwa apabila dalam suatu perkawinan telah ada keturunan ( anak ) maka tujuan perkawinan dianggap telah tercapai dimana proses pelanjutan generasi dapat pula berlangsung.

Masayarakat hukum adat Bali adalah menganut sistem kekeluargaan patrilineal, artinya keturunan selalu ditarik hanya melalui garis pihak laki-laki saja yang dalam bahasa Bali disebut dengan garis kepurusa.
Sistem kekeluargaan patrilineal pada masyarakat Bali merupakan suatu prinsip, suatu sikap yang magis religius. Adapun ciri-ciri hukum kekeluargaan patrilineal di Bali tampak dalam penguasaan kepada anak laki-laki untuk melaksanakan pemujaan leluhur, dan mengabdi kepada desa yang banyak memerlukan tenaga bagi warga desa.

Konsekwensi dengan dianutnya sistem kekeluargaan patrilineal dalam masyarakat hukum Bali, menyebabkan kedudukan anak laki-laki adalah sangat menonjol, termasuk dalam pewarisan dari harta peninggalan orang tuanya. Keadaan tersebut pada dasarnya disebabkan karena anak laki-laki di masyarakat hukum adat Bali adalah berkedudukan di samping sebagai penerus keturunan, juga berkewajiban pada peribadatan keluarga. Ketentuan tersebut tidak berlaku bagi anak perempuan, sebab anak perempuan setelah kawin akan mengikuti keluarga suaminya dan putus hubungan hukumnya dengan keluarga asalnya.

Menonjolnya kedudukan anak laki-laki dalam kekeluargaan masyarakat hukum adat Bali disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

a) Faktor Magis Religius

Bagi masyarakat hukum adat Bali yang beragama Hindu anak laki-laki akan mempunyai kedudukan yang istimewa dalam keluarganya. Anak laki-laki dinamakan Putra karena dipandang sebagai juru selamat nenek moyang yang telah meninggal dunia.

Adapun maksud dari pandangan magis religius terhadap anak lakilaki karena hanya anak laki-laki / putera yang dapat mengantarkan arwah orang tuanya yang telah meninggal ke surga, yaitu dengan cara melakukan upacara pemujaan terhadap leluhurnya tersebut.
Menurut hukum adat Bali, pada perinsipnya hanya anak lakilaki yang terlahir dari perkawinan yang sah yang dapat menjadi ahli waris dari orang tuanya. Namun ketentuan tersebut dapat ditrobos dengan jalan menjadikan anak perempuan berhak mewaris sebagai anak laki-laki. Terobosan tersebut dalam hukum adat Bali dilakukan dengan jalan menjadikan anak perempuan sebagai sentana rajeg, sehingga dalam aspek hukum statusnya sebagai anak laki-laki pada penerimaan harta warisan orang tuanya.
Pada sentana rajeg penting untuk diperhatikan adalah perkawinan yang menyertainya. Seorang anak perempuan yang berkedudukan sebagai sentana rajeg, maka suaminya masuk dan menjadi atau mengikuti keluarga pihak istrinya.

Selanjutnya keturunan yang dihasilkan adalah merupakan pelanjut dari pihak keluarga istrinya, dengan perkataan lain dalam kekeluargaan dan pewarisan laki-laki tersebut berkedudukan / berstatus sebagai wanita.

Adapun bentuk perkawinan laki-laki dengan perempuan sentana rajeg disebut kawin nyeburin. Demikian pula dalam suatu keluarga yang sama sekali tidak mempunyai anak atau keturunan, biasanya mereka akan mengangkat anak sehingga dapatlah melanjutkan keturunannya. Dalam hukum adat Bali peranan seorang anak laki-laki dalam keluarga di Bali khususnya dalam pemeliharaan tempat persembahyangan keluarga ( sanggah / pemerajan ), melakukan ayahan di Banjar, yang tidak dapat dilakukan oleh anak perempuan.

b.) Faktor Kekeluargaan

Hubungan kekeluargaan dalam masyarakat hukum adat Bali yang memegang peranan penting adalah anak laki-laki ( garis kepurusa ). Seperti telah diuraikan di atas bagi masyarakat hukum adat Bali yang tidak mempunyai anak atau keturunan sama sekali, maka dilakukan perbuatan mengangkat anak. Oleh karena itu hukum adat Bali mengenal lembaga pengangkatan anak. Keluarga yang tidak mempunyai keturunan dapat mengambil anak laki-laki dari keluarga terdekat dengan maksud untuk dijadikan sebagai anak kandungnya sendiri. Proses pengangkatan anak tersebut harus dilakukan dengan persetujuan pihak-pihak yang bersangkutan, serta dilangsungkan menurut cara atau prosedur tertentu, antara lain : diadakannya upacara pemerasan dan diumumkan dihadapan masyarakat.

Anak angkat yang demikian di dalam masyarakat hukum adat Bali disebut sentana peperasan. Kedudukan hukum sentana peperasan sama dengan anak kandung, baik dalam hubungan hukum kekeluargaan, hukum pewarisan, serta dalam hubungan kemasyarakatan. Jadi sentana peperasan atau anak angkat, adalah pelanjut keturunan serta berhak penuh sebagai ahli waris terhadap orang tua angkatnya.

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa hubungan hukum mengangkat anak pada masyarakat hukum adat Bali dapat mengakibatkan status seorang anak berubah. Perubahan ini terjadi dengan perbuatan hukum berganda, yaitu :

  1. Perbuatan hukum yang bertujuan melepaskan anak yang bersangkutan dari ikatan keluarganya. Biasanya dengan jalan pembakaran suatu benang, dan pembayaran secara adat, yaitu berupa seribu kepeng, dan satu stel pakaian wanita.
  2. Memasukkan anak itu dalam lingkungan keluarga yag mengangkat dinamakan peras.

Sebelum pengangkatan anak berlangsung terlebih dahulu diadakan permufakatan di antara pihak-pihak yang berkepentingan, baik dari pihak keluarga pengangkat maupun pihak keluarga anak yang diangkat, serta memintakan persetujuan kepada anak yang akan diangkat ( apabila sudah dianggap bisa / dapat memberikan persetujuan ). Setelah mendapat persetujuan, maka niat itu diumumkan pada seluruh masyarakat hukum adat. Pengumuman tersebut dinamakan siar.

Untuk menguatkan tanda pengesahan anak itu, dibuatkan surat oleh kepala desa / lurah yang dinamakan surat peras. Surat Peras itu berisi Berita Acara Pengangkatan Anak yaitu tentang identitas orang tua angkat, orang tua kandung si anak angkat dan si anak angkat sendiri serta pengesahan upacara pengangkatannya, yang fungsinya sebagai surat bukti pengangkatan anak.

Tujuan dari pengangkatan anak dalam masyarakat adat Bali, adalah untuk melanjutkan keturunan orang tua angkat. Akibat dari tujuan ini maka anak angkat sepenuhnya menjadi anggota keluarga yang mengangkat, terutama dalam hal meneruskan kewajiban serta hak orang tua angkat. Adapun hubungan hukum anak dengan orang tua kandungnya menjadi putus. Dalam perkembangannya pengangkatan anak tidak saja oleh keluarga yang utuh ( suami istri ), tetapi juga dapat dilakukan oleh janda / duda yang ditinggal mati, dan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pihak keluarga purusa.

Syarat-Syarat Pengangkatan anak Menurut Hukum Adat Bali

Setiap perbuatan hukum yang dilakukan oleh manusia di dalam kehidupan bermasyarakat ini, haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu. sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam masyarakat dan tidak menyimpang atau melanggar hukum adat setempat. Apabila syarat yang telah ditentukan tidak terpenuhi, maka segala perbuatan yang dilakukan belumlah dapat dikatakan sah atau resmi adanya.

Ini bukanlah berarti manusia itu dapat semena-mena dan bebas melakukan aktivitasnya tanpa memperhatikan lingkungan yang ada disekitarnya. Sebagai langkah awal harus diperhatikan dalam bertingkah laku di masyarakat adalah suatu peraturan yang berlaku, baik itu dalam bentuk hukum tidak tertulis yang umumnya disebut Hukum Adat, maupun hukum tertulis.

Setiap pelanggaran peraturan-peraturan atau tata tertib yang berlaku didalam masyarakat sudah tentu ada sanksinya sebagai suatu resiko atau akibat dari pelanggaran yang dilakukan. Pelanggaran peraturan tidak tertulis dalam masyarakat maka sanksinya dari masyarakat adat, karena masyarakat adat yang membuat peraturan tersebut. Apabila terjadi pelanggaran terhadap peraturan tertulis dari pemerintah maka akan ditindak pemerintah.

Di dalam hal ini pihak yang akan mengangkat anak harus mengadakan musyawarah terlebih dahulu untuk menentukan anak siapa yang akan diangkat. Setelah itu baru datang membicarakan dengan pihak keluarga anak yang mau diangkat. Apabila telah mendapat persetujuan dari keluarga anak yang ebrsangkutan dan tidak ada lagi keberatan dari pihak lain maka barulah ditentukan dari baik untuk pelaksanaan upacara Widhi Widana /pemerasan.

Syarat-syarat anak yang diangkat menurut hukum adat setempat adalah : pertama-tama anak yang diangkat atau yang mau diangkat dari lingkungan keluarga purusa, dan apabila tidak ada yang pantas diangkat dari keluarga purusa, barulah dicari anak dari keluarga predana / perempuan.

Apabila tidak ada yang mau / sama sekali tidak ada anak, barulah boleh mencari anak angkat dari luar keluarga atau masyarakat luas.
Pada umumnya anak yang akan diangkat itu diutamakan anak laki-laki dan apabila tidak ada anak laki-laki barulah bisa terhadap anak perempuan.
Oleh karena hal ini sesuai dengan sistem kekeluargaan yang ada atau dianut di Bali yaitu patrilineal / kebapaan dan menyangkut status dari pada anak yang bersangkutan, sehingga kelak tidak diperlukan lagi merubah status menjadi Sentana Rajeg. Oleh karena anak angkat yang bersangkutan diharapkan sekali dapat sebagai penerus keturunan dari keluarga yang mengangkat.
Adapun persyaratan yang dipenuhi dalam hal pengangkatan anak menurut Hukum adat Bali yaitu :

  1. Orang yang melakukan pengangkatan anak itu harus berhak untuk melakukan perbuatan tersebut.
  2. Anak yang diangkat itu harus memenuhi syarat.
  3. Harus dipenuhi syarat upacara pengangkatan anak sesuai dengan adatistiadatsetempat

Bentuk upacara yang dilakukan dalam pengangkatan anak di Bali berupa upacara keagamaan yang disebut upacara Widiwdana ( pemerasan ). Upacara Widiwidana ini dilaksanakan dengan membuat sajen ( banten ) pemerasan, dimana saat upacara benang tridatu pada sajen dibakar dan ditarik oleh anak angkat sampai putus.

Adapun tujuannya sebagai pemutus hubungan si anak angkat dengan orang tua kandungnya, dan membawa suatu makna memasukkan anak itu ke dalam lingkungan keluarga yang mengangkat. Akibatnya hak dan kewajiban orang tua angkat dalam bidang agama (immateriil) beralih kepada anak angkat, seperti si anak angkat mempunyai kewajiban harus mengabenkan orang tua angkat jika meninggal dunia nati serta menyembah sanggah atau pemerasan milik orang tua pengangkat. —sumber