Kutukan Ekalaya – Dongeng Hindu

Negeri Nisadha, salah satu wilayah makmur di tanah Bharata. Negeri ini dibangun oleh leluhur Nala. Namun, karena keserakahan penguasanya, negeri ini terpuruk. Konon, sekian deret waktu berlalu, sampailah negeri Nisadha diperintah oleh seorang Raja bernama Hiranyadanu. Ia mempunyai putra bernama Ekalaya. Seperti pemuda kebanyakan, kesehariannya berpenampilan sederhana. Kendati berkulit sedikit gelap, ia sosok lelaki remaja tampan dengan wajah bersih, dagu lembut dan tubuh yang tegap.

Ekalaya memiliki otak cerdas. Berbagai ilmu dipelajarinya. Sehingga tak ayal, dahinya bersinar. Suatu hari, ia berpamitan pada orang tuanya.

“Rama, aku akan berguru ke Negeri Hastina. Konon, disanalah turun kitab-kitab sastra termasyur. Sejak Parasara menorehkan tinta emas pengetahuan abadi, negeri itu bermandi cahaya….”

“Baiklah, ananda. Demi ilmu, bila perlu pergilah engkau ke batas langit. Namun ingatlah, setelah engkau kembali nanti, bangunlah negeri Nisadha ini menjadi wilayah yang makmur dan sejahtera.”
“Baiklah, Rama….”

Ekalaya berjalan sendirian. Ribuan hektar daratan datar dilintasinya, turun jurang dan pendakian gunung pun bukan hal yang istimewa lagi. Sekian waktu berlalu, sampailah ia di Hastina. Menurut cerita penduduk, Hastina mempunyai ratusan pangeran. Mereka semuanya cerdas dan pandai berkat didikan Rsi Drona. Terutama Arjuna, dialah diantara pangeran-pangeran Hastina yang paling hebat. Hampir seluruh kemampuan gurunya dikuasainya. Ekalaya hanya bisa mengangguk terkagum-kagum pada Guru Drona. Dan kemudian membayangkan, andaikata saja, ia diterima sebagai murid Drona.

Obsesi menjadi salah satu murid Drona menyiksa bathin Ekalaya. Akhirnya, diputuskannya untuk menemui Rsi Drona dan memohon padanya agar sudi diterima menjadi salah satu siswa.

Saat itu, Drona lagi melepas lelah, seharian mengajar di istana. Di sela waktu istirahat, ia menyempatkan diri melantunkan syair kitab suci. Sekonyong-konyong, seseorang bertubuh tegap muncul dihadapannya.
“Maafkan hamba, Tuan. Begitu lancangnya hamba menghadap padamu hanya karena keinginan yang membuncah di dada hamba….”

Rsi Drona menatap tajam, pemuda tampan penuh santun yang bersila di depannya. Sembari merapikan kitab suci, ia menyambut si pemuda.
Mata hatinya menjawab, bahwa sosok yang datang kali ini sangat membutuhkan uluran tangannya.

“Anak muda, bangunlah. Ada keperluan apa menemui aku?”
Ekalaya memperkenalkan diri. Lalu menjawab,”aku ingin diangkat menjadi muridmu….”

Rsi Drona terpaku. Ia sangat terpesona oleh penampilan Ekalaya. Kalau saja ia tak bersumpah tidak mengangkat murid selain ksatria Hastina. Barangkali saja Ekalaya bisa menjadi andalannya untuk mengimbangi kemampuan Arjuna. Menurut kata hatinya, potensi tersembunyi yang dimiliki Ekalaya luar biasa. Auranya menyedot, menyita perhatiannya. Seperti, tatkala ia berjumpa Arjuna tempo hari.

Putranya, Aswatama yang diharapkan mampu ternyata masih di bawah kemampuan Arjuna. Ia sangat labil dalam emosi, sehingga akan mempengaruhi intelektual dan spiritualnya menuju tatanan stabil. Namun, Ekalaya tidak. Ia cukup sempurna. Hal itu terlihat jelas dari sorot matanya, kalau saja ia yang membimbing, sudah pasti Ekalaya menjadi ksatria pilih tanding, melebihi murid kesayangannya, Arjuna.

“Maafkan hamba, Tuan. Kalau sangat berat memutuskan hari ini, esok hari, atau kapanpun hamba siap menunggu jawaban Tuan….”
Drona tersentak. Lamunannya buyar.

“Bu….bukan begitu, anak muda. Aku tak bisa menerima dirimu sebagai murid…”
“Alasan Tuanku?”
“Kamu dari Nisadha. Bukan ksatria Hastina. Aku hanya bertugas melatih ksatria Hastina….dan itu bagian dari sumpahku!” kata Drona lembut.
“Baiklah, kendati Tuan tidak mau menerimaku, perkenankan aku memanggilmu guru….”
Drona bengong. “Betapa kuat tekad pemuda itu?” pikirnya membatin.

Ekalaya kecewa, ia pun pergi. Pikirannya kalut. Ia berusaha memaafkan Drona, karena telah bersumpah tidak mengambil murid selain ksatria Hastina. Kakinya melangkah menuju hutan. Pada sebuah bukit cadas, ia berhenti. Ia melihat seonggok batu yang terkikis angin, sehingga menyerupai bentuk tubuh seseorang.

Pikirannya bekerja. “Andaikan aku bentuk batu ini menyerupai patung Drona, alangkah indah jadinya. And, ku bawa padanya sebagai kenang-kenangan dariku, mungkin saja ia luluh dan menerimaku menjadi muridnya…..”

Ekalaya pun mencabut belatinya, perlahan dengan kehati-hatian tangannya menoreh garis, membentuk batu cadas menjadi patung. Setiap hari pekerjaannya hanya itu, membuat arcanam Drona. Sampai sekian bulan, barulah patung itu jadi. Patung yang sangat mengagumkan. Persis seperti aslinya. Baru saja ia hendak membawa patung itu ke rumah Drona. Terlintas kembali pernyataan Drona, bahwa ia tak akan mengangkat murid selain ksatria Hastina. Ekalaya ragu. Akhirnya, ia urungkan niat membawa patung Drona.
“Baiknya, aku stanakan arcanam guru di tempat aku berlatih ilmu.”

Mulai saat itulah, Ekalaya berguru pada batu. Ia sering bercakap dengan arcanam gurunya. Seolah dibimbing oleh sang guru.

***
Suatu hari, para pangeran Kurawa dan Pandawa lagi berburu. Ia membangun kemah dipinggiran hutan. Saat mentari membara di ubun-ubun, mereka istirahat. Anjing-anjing pemburunya dilepas liar, dengan harapan salah satu dari mereka mencium kumpulan rusa hutan bersembunyi.

Salah seekor menerobos, cukup jauh dari areal perkemahan. Dan, kebetulan saja berada tidak jauh dari pondok Ekalaya. Saat itu, Ekalaya keluar pondok hendak berlatih. Rupanya bayangan Ekalaya mengejutkan anjing pemburu tadi. Anjing itu menggonggong sejadi-jadinya. Percuma Ekalaya memberi isyarat agar tidak menggonggong. Konsentrasi Ekalaya buyar. Sedikit jengkel, diraihnya beberapa anak panah. Dan beberapa detik kemudian.

Plasss……! Anak-anak panah itu meluncur ke arah anjing yang menyalak santer. Luar biasa panah itu tidak membunuh. Namun menutup mulut anjing yang menganga. Panah yang tersusun rapi dimulut anjing membuatnya tak berkutik, lalu berlari ketakutan menuju perkemahan tuannya.

Semua siswa Drona terkejut melihat kenyataan itu. Mereka tak menduga ada seseorang yang mampu menandingi kemampuan Drona dalam membidikkan anah panah. Begitu pula Arjuna, mulutnya menganga takjub.

“Guru, siapa gerangan yang mampu menandingi kehebatanmu ?” tanya Arjuna.
Drona yang melamun, tersentak. Jangan-jangan Bhargawa turun gunung. Selain dirinya, hanya Bhargawa yang mampu memanah sehebat itu.
“Arjuna, ayo kita cari si pemilik panah, pasti tidah jauh dari sini….aku curiga hanya Bhargawa yang mampu melakukannya….”

Arjuna dan Drona mencari si pemilik panah. Setelah setengah hari mencari, barulah mereka bertemu. Betapa terkejut Drona, ternyata yang dijumpainya hanyalah pemuda berkulit gelap dan begitu asing baginya, ia lupa pernah bersua dengannya tempo hari.

“Wahai anak muda, engkau sangat hebat. Aku kagum akan kemampuanmu…”
“Terima kasih….” Sahut Ekalaya tenang.
“Bisakah engkau menunjukkan kepadaku, kemampuanmu yang lain ?”
Wajah Ekalaya berbinar. Inilah ujian sesungguhnya, sudah lama ia berguru pada arcanam Drona. Sekarang, ya sekaranglah Dewata mengutus guru yang berwujud manusia datang memberi ujian.
“Baiklah, Guru…..” Kata Ekalaya.

Mendengar sebutan guru pada Drona. Arjuna cemberut. Kentara sekali perasaannya iri akan kemampuan Ekalaya. Dalam hatinya, ia berkata, gurunya telah berbohong. Janjinya akan memberi ilmu utama padanya hanyalah sekedar janji, bukan sesungguhnya. Buktinya, ada muridnya yang lain.

Di pihak Drona, justru dengan panggilan guru membuatnya terperanjat. Ingatannya yang melamur tadi, perlahan terang. Ya, pemuda dihadapannya tidak lain pemuda yang pernah mendatanginya tempo hari.
“Benar, ia ksatria Nisadha yang bernama Ekalaya…” kayanya membatin.
Ekalaya mematung, ia meditasi.

Lalu mengeluarkan panah Brahmastra dan merentang busur. Panah meluncur mengeluarkan desing. Kecepatannya luar biasa, lalu berubah menjadi seekor naga yang siap memagut lawan. Pada saat panah menemui sasaran, bumipun berguncang. Pohon bertumbahangan. Rumput terbakan. Hangus. Sebelum sempat menghancurkan lebih lanjut, Ekalaya memanggil panah yang masuk kembali ke kelongsongnya.

Drona bertepuk tangan. Kagum. Arjuna cemberut, lalu menghujat gurunya.

“Sekarang, tampaknya engkau memberikan janjimu pada orang lain…” pekiknya.
Drona tertampar malu. Lantas menoleh ke Ekalaya.
“Rasanya, aku tak pernah mengajarimu. Dari mana kamu berguru ?”
Ekalaya tersenyum, lalu membuka penutup arcanam gurunya.
“Akh….?!” Mereka terpekik kaget memandangi wajah patung yang persis wajah Rsi Drona.

Dibalik rasa kagum, ia berusaha menutupi gejolak perasaannya. Drona memutar otak. Andaikata, Ekalaya dibiarkan terus melakukan hasratnya. Sudah tentu, Ekalaya yang akan menjadi pemanah hebat bukan Arjuna.
“Hal ini tak boleh terjadi ! Tidak boleh terjadi ! “ tegas hatinya.

“Ekalaya, kamu keliru. Sangat keliru ! Aku tak pernah menganggapmu menjadi murid. Ini namanya mencuri, ya mencuri ilmu. Inilah yang mendasari aku tak mau mengangkatmu menjadi murid. Ingatlah, sejarah bangsamu. Kekalahan Prabu Nala melawan sepupunya di meja judi ? Sehingga istananya dipertaruhkan ? Tabiat judi, tidak jauh dari mencuri.

Hukumannya sangat berat….”
“Maafkan aku guru….”
“Kamu bisa menjadi muridku, hanya dengan satu syarat….”
“Syarat apapun akan kuterima, asal aku sah menjadi muridmu.”
“Karena mencuri, aku minta ibu jari tangan kananmu….”
“Akh…! “ Ekalaya terkejut.

Namun ia tersenyum, lalu mencabut belati dan memotong ibu jarinya sendiri dengan tangannya sendiri. Drona menerima ibu jari yang berlumuran darah dengan harapan Ekalaya tak mampu melanjutkan ilmu panah saktinya.

Mereka pun pergi meninggalkan Ekalaya. Sembari mengelus dada, Ekalaya menarik nafas panjang. “Engkaulah penyebab semua ini. Egoisme yang engkau miliki merugikan orang lain. Aku tak akan memaafkanmu. Memang leluhurku, penjudi. Namun beliau telah bertobat. Aku tak terima, perbuatan leluhurku dibawa-bawa. Ingatlah, pada waktunya nanti seluruh keluargamu akan mendapat bencana seperti apa yang pernah terjadi pada keluargaku….wahai, Arjuna !! “ teriak Ekalaya.

Tiba-tiba petir menyambar di siang bolong. Kutukan Ekalaya diterima Dewata. Benar, pada saat pertarungan dadu. Pandawa dikalahkan Kurawa. Parahnya, selain istana, permaisurinya Drupadi pun dipertaruhkan. –sumber