Menyembuhkan Akar Kemarahan

Sebuah pekerjaan rumah umat manusia yang tidak selesai-selesai sejak dulu sekali adalah menyembuhkan akar kemarahan. Padahal, norma-norma agama sudah dibuat selama ribuan tahun, institusi penjara juga berumur ribuan tahun, ilmu psikologi yang berumur tua juga ikut mau menyembuhkan kemarahan, namun tetap saja kemarahan tidak menunjukkan tanda-tanda menurun. Dalam beberapa bagian, kemarahan manusia bahkan semakin parah.

Kendati demikian sulit dan rumitnya menyembuhkan akar kemarahan, namun tetap tidak ada salahnya untuk mencoba lagi dan lagi. Dalam teropong filosofi Timur, jika kemarahan diibaratkan dengan sebuah pemerintahan, presidennya bernama avidya (ketidaktahuan), menteri koordinatornya bernama kerumitan dan kebencian. Bersama-sama mereka membuat dunia semakin gelap dari hari ke hari.

Yang dimaksud ketidaktahuan dalam hal ini, bukanlah ketidaktahuan karena tidak memiliki ijazah. Bukanlah ketidaktahuan karena seseorang tidak pernah membaca. Tapi ketidaktahuan yang bersumber dari pikiran yang tidak bersih sekaligus tidak jernih. Di zaman ini, salah satu kekuatan hebat yang ada di balik pikiran yang jauh dari jernih dan bersih adalah keinginan yang tanpa batas.

Ia yang berjalan kaki mau punya motor. Setelah punya motor mau punya mobil. Setelah naik Kijang mau naik BMW. Begitulah cara keinginan merubah kehidupan menjadi lautan kesedihan yang tidak bertepi. Akibat langsung dari semua ini, kehidupan bertumbuh sangat rumit. Ia diperparah lagi oleh kebiasaan untuk membandingkan ke atas. Perpaduan antara kerumitan dan kehencian inilah yang terus menerus membakar api kemarahan di dalam.

Namun jangan berkecil hati. Di alam ini semua ada penyeimbangnya. Api penyeimbangnya air. Sampah penyeimbangnya bunga indah. Orang jahat penyeimbangnya orang baik. Demikian juga dengan kemarahan. Asal tekun dan tulus melatih diri dengan jalan meditasi khususnya, ada kemungkinan seseorang akan sembuh dari akar kemarahan.

Salah satu perlambang sederhana namun mendalam dalam hal ini adalah tukang taman organik. Semua yang ada di luar maupun di dalam adalah bahan-bahan organik yang bisa diolah. Bahan-bahan di luar adalah memandang orang yang menimbulkan kemarahan sebagai jiwa yang penuh penderitaan. Di balik penderitaan mereka ada jejaring rumit seperti keluarga bermasalah dan sekolah penuh musibah. Begitu jejaring rumit ini terbuka, di sana ada kemungkinan mekarnya bunga kasih sayang.

Bahan-bahan yang tersedia di dalam lain lagi. Pertama, kapan saja kemarahan berkunjung, cepat terhubung dengan jangkar yang menghubungkan pikiran dengan pantai kedamaian. Jangkar itu bernama nafas. Kedua, terima kemarahan sebagai bagian dari diri Anda. Ketiga, dekap kemarahan seperti seorang ibu mendekap putra tunggalnya.

Sebagai mana pernah ditulis oleh banyak buku suci, ada banyak rahasia yang disembunyikan di balik nafas. Dalam konteks kemarahan, nafas itu membawa udara segar ke dalam diri seseorang yang sedang terbakar. Ia membuat ruang pikiran yang pengap seperti mendapatkan udara segar kembali. Lebih-lebih kalau nafas dikombinasikan dengan kesadaran bahwa kemarahan bukan musuh, tapi bagian dari diri kita.

Di psikologi ada ungkapan tua yang berbunyi: “What you resist persist”. Apa yang Anda lawan akan melawan balik dengan kekuatan yang lebih besar. Saat seseorang sakit kepala, tidak ada dokter yang menyarankan untuk membuang kepala. Semua dokter menyarankan untuk merawat kepala. Demikian juga dengan kemarahan. Lupakan ide membuang kemarahan. Rawat kemarahan seperti seorang ibu merawat putra tunggalnya.

Siapa saja yang tekun dan tulus berlatih seperti ini selama puluhan tahun, di sana ada kemungkinan kerumitan digantikan oleh kesederhanaan, kebencian digantikan oleh kebaikan. Dan yang paling penting ketidaktahuan (avidya) diterangi cahaya pengetahuan (vidya). Tidak seperti Guru di sekolah yang menerangi murid dengan kata-kata pinjaman dari luar, cara menyembuhkan kemarahan seperti ini akan membuat seseorang bisa menerangi diri dari dalam. Tetua Bali menyebutnya meshiva raga. Berguru pada Cahaya Tuhan yang ada di dalam.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Foto: 123 rf.

sumber