Mengenal Desa Penglipuran(1): Berawal Abdi Kerajaan, Sejak Dulu Jadi Tempat Rekreasi

BALI EXPRESS, BANGLI – Seperti Desa Adat Penglipuran merupakan desa hulu apad (desa bersejarah) yang masih bertahan dengan tradisinya sampai saat ini. Desa yang terletak di Desa Kubu, Kecamatan, Bangli, Kabupaten Bangli ini pun terkenal hingga ke mancanegara.

Bendesa Adat Penglipuran, I Wayan Supat menjelaskan desanya berawal dari penduduk pendatang Desa Bayung Gede. Hal itu ia jelaskan ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Banjar Penglipuran, Desa Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli Minggu kemarin (17/12).

Pada kesempatan itu, Supat juga bercerita berdasarkan dari penglisirnya, bahwa warga Penglipuran berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani, Bangli. Mereka tinggal di sana dikarenakan tenaga dari desa setempat sangat diperlukan oleh raja.

“Menurut leluhur kami, pada abad ke-13 tenaga lelingsir kami sangat diperlukan oleh Raja Bangli. Baik itu untuk menjadi prajuritnya, bahkan diajak bersama-sama melaksanakan kegiatan upacara yang berlangsung di puri waktu itu,” jelasnya.

Dalam hal tersebut, dapat dikatakan leluhurnya sebagai abdi Raja Bangli. Sebagai payung kekuasaan di daerah Bangli. Karena mereka sangat berpengaruh dalam kegiatan di puri, maka diberikan tempat yang tidak jauh dari puri. Bahkan tidak jauh pula dari Desa Bayung Gede itu sendiri. Dapat dilihat sampai sekarang jarak Desa Penglipuran menuju Puri Bangli, dengan Desa Bayung Gede dapat dikatakan berada di tengah-tengah.

Sedangkan tempatnya di Desa Kubu, di mana yang dijelaskan oleh Supat waktu itu hanya mendirikan sebuah kubu-kubu kecil saja, sesuai nama lokasi desa setempat. “Dapat dikatakan, warga Penglipuran merupakan orang Bayung Gede yang tinggal di Kubu. Bahkan dapat pula disebut orang Kubu yang berasal dari Bayung Gede,” papar Supat.

 

 

Dikarenakan ada beberapa faktor, baik itu jarak, kependudukan, dan keperluan dari masing-masing warga yang tinggal di sana, maka berkembanglah pemikiran warga saat tersebut. Di mana Supat mengatakan leluhurnya sepakat membentuk suatu tatanan organisasi adat yang terpisah dari Bayung Gede sendiri. Maka diberikanlah nama menjadi Desa Penglipuran.

Nama dari Penglipuran itu, sering juga disebut pengeling pura (pengingat pura, Red). Artinya sebagai tanda warga mengingat tanah kelahiran dan leluhurnya di Bayung Gede. Maka penataan organisasi adat di sana menerapkan budaya yang memiliki kesamaan dengan Desa Bayung Gede. Di mana ia sendiri menyebutnya sebagai pengeling pura (pengingat pura).

“Dalam konsep penataan orgainsasi adat itu, juga dilaksanakan tradisi sebagai penghormatan kepada leluhur. Baik mengingat keberadaan desa asli dari segi fisik maupun non fisik. Bisa dikatakan sebagai penghormatan sekala niskala dalam penataan adat di sini,” terang pria yang sudah empat periode menjadi bendesa tersebut.

Wayan Supat juga menerangkan, Penglipuran tersebut dapat diartikan sebagai menghibur. Karena dalam pelaksanaan menjadi abdi kerajaan dapat menyenangkan warga di kerajaan waktu itu. Dalam artian ketika bisa membantu mengerjakan pekerjaan orang lain, pasti orang tersebut akan merasa sangat senang.

Selain itu, ia mengaku wilayah Desa Panglipuran dari zaman kerajaan dulu juga sering digunakan sebagai tempat rekreasi. Terlebih juga sebagai tempat menghibur diri dari kepenatan dalam bertugas.

“Misalnya setelah menyelesaikan suatu pekerjaan, maka ada saja yang datang ke sini untuk berekreasi. Sebab penataan rumah warga yang memang sesuai dengan desa leluhur kami. Di mana sebagai menghibur diri, tetapi bukan sebagai tempat hiburan yang tanda kutip,” tandas Supat.

Dirinya memaparkan, luas wilayah Desa Penglipura sekitar 112 hektare. Terdiri atas tata guna lahan pemukiman warga sembilan hektare, yang merupakan sebagai pekarangan penduduk dengan jumlah 76 kapling. Dalam kapling tersebut Supat sendiri menyebutkan warganya yang sebagai krama pengarep. Yaitu terdiri dari 76 rumah yang terdiri atas satu angkul-angkul (pintu rumah).

Ditanya terkait kepala keluarga yang ada di sana, Supat menyebutkan terdiri atas 240 kepala keluarga. Sedangkan jumlah jiwa yang ada di sana saat ini sudah mencapai seribu jiwa. Pada luar desa sendiri, dirinya menjelaskan dikelilingi dengan hutan bambu. Sebab pada waktu leluhurnya ke sana, memang kawasan tersebut dikenal dengan hutan bambu yang sangat luas. Di mana ia menyebutkan sekitar 45 hektare yang tersisa sampai saat ini.

Selain hutan bambu, Supat mengaku terdapat 55 hektare sebagai tegalan warga. Sedangakan 4 hektare sisanya digunakan sebagai fasilitas umum. “Nah 4 hektare ini difungsikan sebagai lapangan, sekolah, gedung serbaguna, dan bangunan lainnya yang sebagai tempat umum. Salah satunya adalah berupa jalan yang digunakan akses untuk mengelilingi dari desa ini,” urainya.

Disinggung perbatasan desa, Supat juga memaparkan bahwa di utara desa dibatasi dengan Desa Adat Kayang. Pada sebelah timur, ada Desa Adat Kubu, di selatan Desa Cempaga. Sedangkan di sebelah barat merupakan Desa Adat Cekeng. Desa Penglipuran sendiri merupakan berada di tengah-tengah keempat desa tersebut yang letaknya di utara Bukit Kubu.

Disinggung penataan desa, Wayan Supat menyebutkan bentuknya memanjang. Yaitu dari utara ke selatan, di samping itu juga disesuaikan dengan ketinggian tempat. Karena menurut ia sendiri sebagai bentuk mandala di wilayah desa. Terdiri atas pemempatan Pura Pentaran, berada di hulu desa dengan dataran paling tinggi, dilanjutkan dengan pemukiman warga. Sedangkan di tengah-tengah desa terdapat sebuah balai banjar.

Lanjutnya, di paling hilir dengan dataran paling rendah terdapat sebuah setra (kuburan). Yang terletak pada arah timur laut desa tersebut. Bahkan Supat menunjukkan di hilir juga terdapat sebuah Makam Pahlawan, di mana ia mengaku sering dianggap sebagai Pura Dalem Ageng.

“Disebut Setra Dalem Ageng, karena di sana sebagai makam dari kerajaan yang tergolong trah Dalem. Kemungkinan karena itu, maka warga di sini menyebutnya Pura Dalem Ageng,” imbuh Supat.

Nah, jika penasaran dengan Desa Penglipuran dapat menuju arah Kota Bangli. Di mana dari Pusat Kota Denpasar hanya memerluka waktu sekitar satu jam perjalanan. Meleati Jalan Baypass Ida Bagus Mantra sampai di lampu merah Tulikup Gianyar, lurus ke utara sekitar sembilan kilometer saja maka akan sudah sampai di Pusat Kabupaten Bangli.

Dari Kota Bangli, hanya ke utara lagi sekitar empat kilometer saja, maka akan sampai di depan kantor Desa Kubu. Di sana sudah terdapat papan nama yang bertuliskan Desa Penglipuran, belok ke kiri kurang lebih 900 meter maka akan sampai di perkiran desa hulu apad tersebut. (bersambung/yes)

(bx/ade/yes/JPR) –sumber